Zonasi dan Kesiapan Kita

Oleh: Muliyadi Hamid

Kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi ternyata menuai masalah. Banyak orang tua calon siswa menentangnya. Terutama yang nilai hasil ujiannya tinggi dan berdomisili di luar zana sekolah favorit. Mereka menilai, indikator prestasi tidak bisa digantikan dengan jarak domisili dengan sekolah yang diinginkan. Padahal, pemerintah melalui permendikbud nomor 50 tahun 2018 tentang PPDB yang mengatur tentang zonasi tersebut sejatinya ditujukan untuk menciptakan pemerataan terhadap akses pendidikan dan pemerataan kualitas pendidikan.

Selama ini citra sekolah favorit telah menciptakan ketimpangan dengan sekolah lain yang tidak favorit. Sekolah favorit selalu diincar dan kebanjiran pelamar dari berbagai wilayah. Bahkan yang pelamar yang berdomisili sangat jauh dari lokasi sekolah. Sementara yang tidak di favoritkan biasanya kekurangan pelamar. Karena menjadi incaran, apalagi dengan sistem PPDB on-line, maka tentu saja yang tersaring di sekolah favorit adalah calon siswa yang secara prestasi memang di atas rata-rata.

Masalahnya adalah citra favorit ini seringkali diikuti oleh prilaku menyimpang dalam proses rekrutmen. Baik oleh sekolah, maupun orang tua calon siswa. Karena sangat berkeinginan agar putra-putrinya memasuki sekolah favorit, maka berbagai cara ditempuh, termasuk cara-cara yang tidak terpuji dan melanggar norma-norma hukum dan etika. Sayangnya- pada saat yang sama- karena adanya permintaan pihak sekolah ternyata juga seringkali tak kuasa menahan godaan.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : asrie


Comment

Loading...