Kiprah Kelas Perahu Cerdaskan Anak Pulau

Kamis, 27 Juni 2019 - 12:48 WIB
MASA DEPAN. Anak nelayan di Pulau Sakuala, Pangkep, memanfaatkan waktu saat mencari ikan dengan mengisi LKS program Kelas Perahu. (HANDOVER/SAKINAH/FAJAR)
Belajar Sambil Cari Kepiting

Tangkapan Nurazizah hari itu lumayan banyak. Kepiting aneka ukuran.

Laporan: Sakinah Fitrianti

FAJAR.CO.ID, PANGKEP — Nurazizah merupakan salah seorang pelajar di SDN 23 Sakuala, Kecamatan Liukang Tupabiring, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulsel.

Sehari-hari ia membantu ayaknya mencari kepiting dan ikan di perairan Tupabiring. Walaupun masih terbilang belia dan masih duduk di sekolah dasar, semangat Nurazizah membantu orang tuanya yang seorang nelayan sangat tinggi.

Ia selalu menemani sang ayah mencari kepiting dan ikan. Terik tak menghalangi langkah Azizah di atas perahu kecil yang ditumpanginya bersama Beddu, ayahnya itu.

Sembari memperhatikan jaring yang dilepasnya ke perairan, sesekali ia duduk menghela napas membuka lembaran-demi lembaran buku yang diberikan guru wali kelasnya di sekolah.

Ada satu buku cetak pelajaran ditambah satu buku berisikan soal-soal dalam bentuk Lembar Kerja Siswa (LKS). Sambil mengisi soal-soal yang dijawabnya di LKS, ia juga membuka lembaran buku cetak yang dijadikan rujukan itu.

Ketika laju perahu cukup kencang, tidak jarang lembaran bukunya terkena air laut. Ia tutup lagi. Tidak lama ia kembali mengisi soal-soal dalam LKS tersebut.

“Saya biasa ikut membantu bapak yang bekerja sebagai nelayan. Karena tidak ada yang bisa bantu selain saya,” ucapnya.

ia pun mengakui, kerap tidak masuk sekolah, demi membantu ayahnya itu. Nilainya di sekolah pun ikut turun karena ketidakhadirannya.

“Tetapi saya harus tetap bantu orang tua. Walaupun nilai di sekolah turun. Tetapi ada program ini, guru menitipkan LKS,” bebernya.

Melalui LKS yang diberikan itu, Azizah merasa sangat terbantu. Pihak sekolah memberikan kebijakan agar tidak ketinggalan pelajaran di sekolah, dengan LKS dan buku panduan lain.

Perahu pun menjadi tempatnya belajar sehari-hari. Setiap pulang melaut, usai mencari ikan, LKS itu wajib ia setor ke guru wali kelasnya. Sebab, di situlah absensi dan penilaian bagi para anak nelayan yang aktif membantu orang tuanya di laut.

Beddu, orang tua dari Azizah mengaku sangat terbantu dengan adanya kebijakan bagi Azizah agar tetap bisa menuntut ilmu, walaupun berada di perahu.

“Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya putus sekolah. Tetapi tidak ada pilihan lain. Ini agar ada tambahan ekonomi juga. Sebab kita hidup pas-pas juga,” keluhnya.

Beddu mengaku sangat bersyukur pihak sekolah memaklumi pekerjaan Azizah yang ikut mencari ikan di laut. Ia menyamakan kebijakan itu dengan bantuan. Dinilainya sangat bermanfaat.

“Sehingga anak saya masih bisa bersekolah walaupun belajarnya di perahu. Kadang kami pulang malam dan berangkat subuh, dia tidak pernah lupa membawa buku-bukunya,” ungkap Beddu.

Kemudahan pelayanan pendidikan bagi anak pulau itu digagas Rukmini, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Pangkep. Langkah itu sebagai salah satu upaya menekan angka putus sekolah bagi anak nelayan.

Rukmini menceritakan, awalnya ide menerapkan program kelas perahu itu digagas melihat kondisi pendidikan di pulau yang memperihatinkan. Anak-anak nelayan lebih memilih mencari ikan daripada masuk sekolah menuntut ilmu.

Tidak lain, tujuannya membantu ekonomi keluarganya. Perempuan berjilbab ini mengaku sangat prihatin dengan anak-anak nelayan yang keluar melaut, kemudian saat ujian tidak diprioritaskan lagi untuk masuk kembali ke sekolah. (*/rif-zuk)