Mereka yang Resah Terhadap Minat Baca Anak Pesisir

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Di Taman Baca Makassar International Writers Festival (MIWF) di Fort Rotterdam, dua penggerak literasi, Ridwan Alimuddin dan Rahmat membagi cerita perjalanannya dalam kerja-kerja literasi, Rabu, 26 Juni.

Muh Ridwan Alimuddin berasal dari Polman, Sulbar. Sementara, Rahmat dari Pangkep. Kedua punya metode dalam menumbuhkan minat baca anak-anak pesisir.

Ridwan lewat Perahu Pustaka dan membuat perpustakaan sendiri di kampungnya, Desa Pambusuang, Polman. Nusa Pustaka namanya.

Ridwan memulai membuat perahu Pustaka Patingaloang itu dengan menggunakan perahu tradisional Mandar jenis baqgo. Dibuat di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar, Sabtu, 25 April 2015. Perahu itu diluncurkan Makassar International Writers Festival (MIWF) pada Juni 2015. Saat ini, ikut kembali ke MIWF. “Kami sudah Sudah punya 10 ribu koleksi buku,” ujarnya.

Buku-buku itulah yang dibaca untuk anak-anak pesisir dan di kampung halaman Ridwan. Buku-buku itu juga dipakai untuk mahasiswa, peneliti yang melakukan penelitian.

Sementara Rahmat dengan The Floating School. Gerakan menyasar anak di pulau-pulau di Pangkep. Anak-anak juga diajarkan menulis dan diberikan pendidikan. Materi yang diberikan tak jauh beda konteks dan keperluan anak-anak pesisir.

“Mereka harus diajarkan sesuai kondisinya. Mereka harus bangga menjadi anak pulau dan lebih dekat situasinya yang dialaminya,” ujarnya saat diskusi di MIWF, Rabu, 26 Juni.

Target dari dari kelas menulis, anak-anak di akhir kelas menulis akan membuat buku. “Misalnya soal puisi mereka tentang pulau. Semuanya tentang apa yang dialami. Lebih dekatlah,” urainya.

Bagi Rahmat, anak-anak pulau harus diajarkan dengan pendidikan kontekstual. Buku-buku yang diberikan mestinya sesuai kondisinya. Di Pangkep sebanyak 117 pulau kecil dan 87 pulau di antaranya berpenghuni. Itu disasar The Floating School (ham)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...