Rekam Bencana dalam Puisi, Penyair Luncurkan Buku di MIWF

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR--Kumpulan puisi dari 20 penyair dengan judul “2018 Almanak Bencana dan Sajak-sajak Rencana” yang didiskusikan Makassar International Writers Festival (MIWF).

Penggagas buku, Neni Muhidin (kiri), pemantik diskusi Ilham Wasi (Jurnalis FAJAR), dan Muh Ridwan Alimuddin, penggerak Perahu Pustaka hadir di Fort Rotterdam Makassar, Kamis, 27 Juni.

Buku itu adalah respons para penyair merekam bencana ke dalam puisi yang terjadi di Indonesia utamanya di Sulteng.

Neni Muhidin menyebutkan, buku bagian dari pengingat ingatan. Ide buku ini lahir setelah diadakannya malam puisi di Palu.

“Kemudian saya menghubungi beberapa kawan penyair. Mereka merespons. Mereka juga bersedia mengirim puisinya,” ujarnya.

Buku itu berisi penyair-penyair, selain Neni Muhidin, penulis lainnya, yakni, Adimas Immanuel, Alkes Giyai, Ama Achmad, Amah Mufti, Aslan Abidin.

Kemudian, Candra Malik, Faisal Oddang, Gola Gong, Gunawan Maryanto, Hudan Nur, Irwan Bajang, Joko Pinurbo, Mario F Lawi, Pinto Anugrah, Rohmatyani, Shinta Febriany, Syaifuddin Gani, Theoresia Rumthe, dan Weslly Johannes.

Baca Juga: MIWF Usung Tema People, Respons Usai Pemilu

Ilham menyebutkan, para penyair memberi respons terhadap bencana, Palu dan Donggala, dan bencana lainnya di Indonesia. Para penyair menyajikan dan memilih kata yang berbeda dalam puisinya. Misalnya, bagaimana penyair menyebut, Likuefaksi dalam puisinya.

Memang tak ada yang menyebutnya secara langsung. Misalnya sajak, Adimas. “Palu: Rumah Puisi”. Bencana disebutnya sebagai “tragedi”. Biasanya kalau dalam drama, berakhir ketidakbahagiaan. Itu tragedi. Dia menyebutnya dua kali dalam puisi itu. Adimas memang tidak menyebut Likuefaksi, tetapi menyebutnya. “Kami saksikan: suadara senegeri berjuang menjejakkan kaki ‘di tanah-tanah yang bergeser’…”

Aleks Giyai dalam puisinya “Pilu Palu Doa Kami” sendiri dalam diksi, Likuefaksi, memang tidak disebutkan secara langsung, akan tetapi, disebutkan “rumah berjalan tanah terbelah”. (abd)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi

Comment

Loading...