Bertaruh Nyawa di Laut, Tekan Angka Putus Sekolah

Jumat, 28 Juni 2019 - 07:25 WIB
JADI BAHASAN. Program Kelas Perahu dibahas dalam diskusi inspirasi di Kantor BaKTI, Jalan Andi Mappanyukki, Makassar, Kamis, 27 Juni. (Foto: NURHADI SASU/FAJAR)

Tak ada lagi istilah tertinggal pelajaran. Program Kelas Perahu bisa meminimalkannya.

LAPORAN: SAKINAH-RUDIANSYAH, Pangkep-Makassar

FAJAR menemui Rukmini, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Ia menguak ketertinggalan pendidikan anak-anak pulau.

“Selama ini kami melihat banyak anak nelayan yang datang saat ujian. Mereka tidak bisa ikut ujian lagi. Itu kan kasihan sekali. Sehingga, kita coba hadirkan pelayanan khusus bagi mereka agar tetap bisa menuntut ilmu,” beber Rukmini.

Ia menggagas program baru sekaligus disebutnya inovasi: Kelas Perahu. Mulai diterapkan di Pulau Sakuala, Kecamatan Liukang Tupabiring. Ada beberapa anak yang masuk dalam program kelas perahu.

Tidak semua pelajar. Hanya yang betul-betul aktif membantu orang tuanya saja yang masuk dalam kategori ini. Bentuk keprihatinan itulah sehingga Mini sapaannya tidak ingin anak nelayan putus sekolah. Hanya karena ikut membantu orang tuanya mencari ikan.

“Kasihan kita melihat anak-anak nelayan. Mereka keluar mencari kepiting subuh, pulang siang. Jadi mereka tidak dapat lagi belajar di kelas,” katanya.

Sehingga hadirnya Kelas Perahu ini, dapat mengembalikan semangat pelajar para anak nelayan yang ikut membantu orang tuanya saat melaut mencari kepiting dan tangkapan lainnya. Dengan berbekal LKS yang berisi materi, petunjuk soal, dan tugas yang harus dikerjakan, itu sudah memuat kompetensi dasar yang diatur oleh sekolah.

Bahkan ia menyebut, di salah satu pulau lagi, ada yang harus keluar mencari ikan hingga 20 hari. Hal itu tentu sangat merugikan bagi para pelajar. Karena ketinggalan banyak mata pelajaran.

Saat ini, Wakil Bupati Pangkep, Syahban Sammana mewakili Indonesia berangkat ke Azerbaijan dalam rangka menerima penghargaan dari PBB, berkat Kelas Perahu yang mulai mendunia.

“Tidak ada kapal khusus yang kami hadirkan. Semua kapal nelayan yang digunakan mencari ikan itu bisa digunakam sebagai sarana belajar bagi anak-anaknya yang ikut melaut. Ke depan kita akan terapkan untuk semua sekolah,” jelasnya.

Kepala SDN 23 Pulau Sakuala, Sukri Darmawan mengaku kehadiran sekolah perahu ini sangat bermanfaat bagi para anak nelayan.

“Tentu mereka sangat terbantu. Jadi sudah ada indikator penilaian khusus bagi mereka yang keluar membantu orang tuanya. Jadi tetap diikutkan ujian karena sudah mengisi LKS yang diberikan,” paparnya.

Ia juga menerangkan, saat ada anak nelayan yang keluar mencari ikan, lantas tidak mengerjakan LKS yang telah diberikan wali kelasnya, maka dianggap tidak hadir.

Jadi Pembicara

Inovator Kelas Perahu, Rukmini juga hadir menjadi narasumber diskusi inspirasi di Kantor BaKTI, Jalan Andi Mappanyukki, Makassar, Kamis, 27 Juni. “Mengubah cara berpikir orang itu paling sulit. Begitu juga meyakinkan orang lain,” ia membuka pembahasan.

Seluruh hadirin menganggukkan kepala. Sepakat dengan apa yang disampaikannya. Tak mudah meyakinkan orang, apalagi yang ditawarkan tak langsung membuahkan hasil.

Tetapi, inovasi kelas perahu yang dijalankan pada tahun ajaran 2016/2017, berhasil. Ia menampilkan data angka putus siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun ajaran 2016/2017. Angka untuk siswa SD 29 persen menurun pada tahun ajaran 2017/2018 menjadi 12 persen.

“Alhamdulillah ada keberhasilan,” ucapnya bersyukur. Seluruh hadirin bertepuk tangan. Anak yang berada di kepulauan, tuturnya, punya semangat besar. Buktinya, disaat usia mereka masih sepuluh tahun, memilih untuk melaut bersama keluarganya dilakoni.

Kesadaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dilakukan sejak dini. Karena kondisi itu, mereka tak masuk sekolah. Padahal, anak-anak itu bertaruh nyawa di lautan.

“Karenanya, dengan lembar kerja siswa (LKS), kegiatan belajar tetap berjalan. Siswa yang malu ke sekolah karena berhari-hari tak masuk sekolah, berhasil diatasi,” ungkapnya.

Kadis Pendidikan Pangkep, Muhammad Idris Sira, Kabag Organisasi dan Tata Laksana Sekda, Iman Takbir, yang duduk di barisan depan melempar tatapan haru. Keduanya tersenyum.

“Semoga apa yang dilakukan bisa berjalan dengan baik. Kami sangat mendukung kegiatan ini, agar siswa di kepulauan bisa melanjutkan sekolah sampai ke jenjang perkuliahan,” kata Muhammad Idris Sira, setelah kegiatan usai.

Inovasi ini mendapat dukungan dan perhatian dari Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan Kemitraan Pemerintah Australia-Indonesia (Kompak).

Manager Program Kompak Sulsel, Ahmar Djalil, mengaku sangat tersentuh danerasa bangga dengan program inovasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Pangkep dalam menekan angka putus sekolah.

“Jadi kita akan membantu dalam mendokumentasikan ke dalam bentuk buku panduan replikasi kelas perahu. Termasuk membuat kegiatan workshor, pendampingan, dan kegiatan publikasi yang akan dibiayai oleh Kompak,” kata Ahmar.

Inspirasi kelas perahu dari Kabupaten Pangkep, ia harapkan bisa menjadi bahan percontohan bagi daerah kepulauan lainnya di Sulsel dan luar Sulsel. “Makanya kita buat replika agar menjadi panduan bagi daerah kepulauan lainnya,” gumamnya. (*/rif-zuk)