Dugaan Tewasnya Anak Pemilik Hotel karena Bunuh Diri Menguat

0 Komentar

FAJAR.CO.ID,BALIKPAPAN–Dugaan Ferawati Ulricca Wijaya (30) tewas karena bunuh diri dengan melompat dari lantai delapan hotel, Senin (24/6), menguat. Dari lokasi awal tempat korban diduga jatuh, polisi tidak menemukan tanda-tanda Fera mengalami insiden yang membuatnya terjun secara tidak sengaja.

Kondisi di lantai delapan dikelilingi pagar beton pengaman setinggi dada orang dewasa. Tanpa celah atau lubang yang memungkinkan korban terjatuh secara tidak sengaja.

“Agak sulit mengatakan bahwa korban jatuh karena unsur kelalaian sendiri,” ungkap Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta melalui Kasat Reskrim AKP Makhfud Hidayat.

Namun, penyidik tidak bisa menyingkirkan adanya unsur lain dalam tewasnya anak pemilik hotel bintang tiga di Jalan ARS Muhammad, Klandasan Ulu, Balikpapan Kota, itu.

Unsur tersebut adalah keterlibatan orang lain yang mendorong Ferawati. Untuk meloncat hingga tewas tersangkut di atas fondasi tembok rumah yang berjarak sekitar 30 meter dari lokasi terakhir kali dia beraktivitas.

“Hanya ada dua kemungkinan. Memang sengaja loncat atau ada dorongan dari orang lain yang sengaja mencelakakan korban. Sementara masih kita lakukan pendalaman,” kata Makhfud.

Untuk diketahui, penyidik kesulitan melakukan penyelidikan lantaran telah rusaknya tempat kejadian perkara (TKP). Tim identifikasi yang datang ke lokasi jatuhnya korban tidak bisa melakukan pekerjaannya lantaran jasad Ferawati sudah dievakuasi pihak keluarga ke RS Bhayangkara. Padahal, sesuai standard operating procedure penyelidikan kepolisian, setiap peristiwa yang menyebabkan kematian, lokasi kejadian terlarang dimasuki selain petugas berwenang.

“Ini menjadi pembelajaran masyarakat. Jika ada kejadian langsung menghubungi kepolisian. Kami akan memasang police line untuk sterilkan TKP,” ujarnya.

Saat ini, penyidik masih berupaya menemukan petunjuk yang bisa meyakinkan penyebab Ferawati bisa terjun. Dari mengumpulkan keterangan saksi dan barang milik korban. Termasuk menunggu hasil resmi visum terhadap tubuh korban. “Kami juga akan lihat rekaman CCTV di hotel,” kata Makhfud.

Dikonfirmasi terpisah, psikolog Balikpapan Dwita Salverry memaparkan ada banyak faktor yang bisa membuat seseorang memutuskan untuk bunuh diri. Namun, untuk kasus Ferawati, dirinya belum bisa berkomentar karena belum ada hasil resmi dari kepolisian.

“Jadi yang saya ungkapkan ini adalah gambaran secara umum. Bukan terhadap kasus ini,” ungkap Dwita.

Menurut dia, bunuh diri adalah kondisi seseorang yang menghadapi masalah namun merasa tidak menemukan solusi. Menjadikan orang tersebut stres hingga depresi. Di fase depresi itu pun prosesnya tidak singkat. Karena seseorang tak akan memutuskan bunuh diri dalam waktu singkat.

“Pasti akan ada ketakutan untuk melakukan bunuh diri. Jadi ini merupakan proses panjang,” sebutnya.

Mereka yang sedang dilanda depresi hingga berpotensi bunuh diri biasanya mengalami perubahan. Dari sikap, biasanya cenderung pemurung dan menjauh dari lingkungannya. Sementara dari fisik, seseorang yang depresi biasanya mengalami perubahan bentuk tubuh.

“Bergantung cara mereka menyalurkan. Namun cenderung yang negatif,” katanya.

Sebenarnya, mencegah seseorang bunuh diri bisa dilakukan. Karena pada dasarnya, mereka memerlukan seseorang yang bisa mendengarkan cerita. Bisa menerima cerita tersebut tanpa harus memberikan beban tambahan.

“Let’s talk. Yang diperlukan mereka ini hanya ingin bercerita dan cerita ini didengar. Itu saja sudah cukup,” sebutnya.

Namun terkadang ada yang enggan terbuka. Di sini peran orang terdekat atau keluarga sangat penting. Dengan tanda-tanda seseorang mengalami depresi seharusnya bisa dilihat secara kasatmata. Misal, yang sebelumnya periang menjadi pendiam. Atau yang sebelumnya kurus menjadi gemuk. Atau sebaliknya.

“Tanda-tanda itu terlihat. Tinggal bagaimana kita bisa memberikan mereka ruang untuk bicara,” tuturnya.

Sayang, belum ada data valid berapa jumlah orang bunuh diri khususnya di Kaltim. Sementara di Indonesia, pada 2018, World Health Organization merilis sedikitnya 3,7 persen dari 100 ribu orang yang bunuh diri. Menempatkan negara ini di ranking 159 dunia.

Meski cukup rendah, namun Dwita menyebut, secara umur, mereka yang bunuh diri banyak yang berada pada usia produktif. Bahkan, ada kasus seorang anak bunuh diri hanya karena dimarahi orangtuanya atau tidak lulus diterima di sekolah yang diinginkannya.

“Ini menunjukkan pikiran dan mental yang belum matang,” ungkapnya.

Sebelumnya pihak keluarga tidak ingin berspekulasi apakah Fera tewas bunuh diri atau tidak. Kakak korban, SW, menyebut selama ini adiknya tidak pernah mengeluh terkait persoalan apapun. Pun saat sebelum peristiwa, Fera tidak terlihat sedang memiliki masalah. Sosok sang adik dikenal ceria dan akrab dengan keluarga maupun karyawan hotel.

“Adik saya itu orangnya periang. Enggak ada pernah menyebut persoalan. Sebelumnya pun sarapan bareng dan dia (Fera) biasa saja,” ujarnya. (rdh/dwi/k8/prokal)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...