Esoterisme

0 Komentar

Oleh: Mohd. Sabri AR

Bahasa, juga kalam yang dipilih Tuhan, selalu berangkat dari kesunyian, kekosongan dan juga kehendak. Rumusan rupa ilahi, juga sabda-Nya, dengan sendirinya berakar pada kata-kata yang tersimpul, meski melesat menghampiri Yang Tak Tercakapkan.

Setiap tradisi keagamaan memiliki bentuk spiritualitas atau esoterisme yang unik. Spiritualitasnya bukanlah sesuatu yang bertumpu secara periferial, justru ia merupakan esensi dan substansi pada setiap agama. Spiritual yang dimaksud adalah sebilah kesadaran mendalam (deep consciousness) terhadap Yang Ilahi atau Kebenaran. Dan kesadaran ini sekaligus merupakan keperiadaan (being).

Dalam spiritualisme Kristen, misalnya kesadaran terhadap Yang Ilahi, pada intinya terekspresikan dalam bentuk cinta. Maka, spiritualisme Kristen lebih terlihat sebagai “spiritualitas kecintaan” sementara spiritualitas Islam mendakukan Kemahabenaran (Al-Haqq) dan makrifat. Dengan begitu, spiritulitas Islam dapat diandaikan sebagai “spiritualitas kearifan”.

Akan tetapi, meskipun aspek cinta mendominasi spiritualitas Kristen, ia tetap mengandung anasir kearifan. Begitu juga dengan spiritualitas Islam, meski tampil dalam bentuk “kearifan” (makrifat), ia tetap merengkuh unsur cinta. Inilah aspek a priori dalam tradisi spiritualitas yang tidak pernah menghalau kehadiran unsur selainnya.

Jejak keunikan serupa juga dijumpai dalam tradisi spiritualitas Tao. Apa yang dandaikan Taoisme sebagai Tao, disebut para kaum ‘irfani sebagai Al-Haqq. Tao adalah sehelai Hakikat yang teramat sukar dikenali dan didefinisikan, karena Tao menerbitkan sayap pemaknaan yang aneka: Tao terkadang dilihat sebagai Realitas (The Real), Kebenaran (The Truth), dan Jalan (The Way), betapa pun Tao sangat menonjolkan dirinya sebagai Jalan atau Shirat dalam tradisi Islam.

Dari uraian ini, akan benderang bahwa pokok masalah filsafat adalah wujud yang harus tidak terkuantifikasi atau pun termaterialisasi. Ditegaskan, Wujud seperti ini diandaikan sebagai “wujud mutlak” dalam perspektif para filosof, meski wujud dalam perspektif ‘irfani lebih mutlak daripada wujud dalam perspektif filsafat. Di titik ini, Wujud ‘irfani amat luas bahkan hadir dalam semua maujud, karena Wujud adalah akar dan sumber dari semua wujud partikular.

Relasi antara universal dan partikular bisa ditelakkan dalam percakapan ontologis dan epistemologis. Suatu hal partikular, sejatinya universalitas yang terpartikularisasi dengan suatu partikularitas. Ibarat “ketuhanan” yang sebenarnya adalah “Tuhan” universal, yang terpatikularisasi ke dalam “sifat, nama, atau pun cipta-Nya”. Ini secara ontologis.

Mengetahui hal partikular tapi tidak mengenal hal universal adalah non sense. Itu sama artinya bahwa “Saya mengetahui ide ketuhanan namun tidak tahu Tuhan itu sendiri.” Itu sebabnya, yang partikular tidak mungkin terpisahkan dari yang universal, baik pada alas ontologis maupun epistemologis. Pengandaian pemahaman itulah yang bersifat esoteris dalam tradisi agama, yang menegaskan: meski Tuhan transendental-universal, namun jejak-jejak partikularitas-Nya terhunjam kukuh di setiap sistem keimanan. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...