Kader Senior Golkar Harap Bupati Jalankan Mekanisme Partai

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Perolehan kursi Golkar di Enrekang yang terus menurun setiap pileg menjadi kekecewaan kader. Padahal, nyaris delapan tahun terkahir, ketua Golkar Enrekang dijabat Bupati Enrekang dua periode, Muslimin Bando.

Meski berhasil mendongkel PAN dari kursi Ketua DPRD, capaian enam kursi Golkar dalam pileg 2019 ini diangggap belum maksimal. Bahkan, anggota DPRD Enrekang, Andi Natsir menyebut banyak hal yang harusnya menjadi koreksi internal partai untuk menerapkan prinsip kritis, objektif, profesional, dan proporsional (KOPP) kader sesuai AD partai.

“Nyaris sudah tidak pernah ada rapat pengurus harian. Keputusan diambil sepihak saja dan itu kurang baik,” kata Andi Natsir.

Mantan Ketua DPRD Enrekang ini menggarisbawahi prosesi penentuan ketua DPRD nantinya, mesti dibahas secara terbuka melalui rapat pengurus harian atau bahkan rapat pengurus yang diperluas, menghadirkan hingga ketua tingkat kecamatan. Dia berharap penunjukan ketua DPRD oleh partai, tidak dilakukan secara asal hanya karena ada kedekatan tertentu dengan bupati yang juga ketua Golkar saat ini.

“Kalau mau mudah, ada mekanismenya. Yaitu tentukan melalui rapat pengurus harian, hadirkan semua pihak,” bebernya.

HUT ke-73 Bhayangkara, Polres Maros Ziarah Ke TMP

Minta Uang Rp2 Juta, Penipu Catut Nama Dosen Unhas

Soal Putusan MK, Ini Sikap Resmi dan Saran dari PP Muhammadiyah

Apalagi dalam juknis partai juga sudah menetapkan parameter penunjukan ketua DPRD. Di antara syarat tersebut seperti minimal menjabat pengurus harian dalam kurun lima tahun terakhir, pendidikan minimal S1, inkumben di DPRD atau karena perolehan suara yang dominan. Andi Natsir yang sudah menjabat empat periode sebagai legislator Golkar ini mengingkatkan, muruah lembaga juga tidak bisa dipisahkan dari kapasitas dan integritas ketua DPRD nantinya.

Saat ini, empat nama mengerucut mulai didengungkan di internal Partai Golkar sebagai calon ketua. Dua di antaranya adalah inkumben dan pengurus senior partai yakni Idris Sadik dan Dedi Bahtiar. Lainnya adalah peraih suara terbanyak Rahmat Saleh (5.300-an) yang juga dikenal sebagai salah satu orang dekat Bupati Enrekang, serta Abd Wahid Arsyad yang mengumpulkan suara pribadi hampir 4.000-an.

“Kekecewaan saya bukan karena tidak lagi terpilih. Tapi kerena kursi Golkar yang terus menurun. Apalagi kalau penentuan ketua dewan nantinya tidak dilakukan secara fair,” bebernya. (nur)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...