Lomba 17 Agustusan

0 Komentar

Oleh: M. Qasim Mathar

Biasa menyaksikan lomba dalam merayakan hari kemerdekaan kita 17 Agustus? Saya yakin banyak di antara kita biasa menyaksikan. Ada lomba panjat batang pohon pinang, lomba tarik tambang, lomba makan keripik yang tergantung, lomba lari dalam karung, dan banyak lagi lomba lainnya. Lomba 17 Agustusan adalah nostalgia bagi yang kini sudah berusia tua. Kenangan indah bagi yang kini sudah berumur setengah baya. Bersemangat untuk ikut lomba lagi pada bulan Agustus bagi yang kini berangkat dewasa.

Pernahkah anda menang jika ikut lomba? Atau kalah? Atau kalah menang sama saja bagi Anda. Bukan hadiahnya yang penting, kata seorang remaja. Yang penting ialah sorak-sorai penonton saat pertarungan dalam lomba berlangsung. Dan, sorak-sorai itu bergemuruh panjang karena menyaksikan ada yang kalah.
Saya jarang menang, kata seseorang saat mengenang lomba 17 Agustusan. Karena sering kalah, biasalah bagiku rasa kalah itu. Gemuruh sorak-sorai penonton karena kita kalah, juga sudah menjadi hal biasa. Bahkan, terdengar menjaga semangat tarung untuk ikut lomba lagi pada 17 Agustus tahun depan.

Seperti halnya selalu gagal sampai ke puncak untuk merebut macam-macam hadiah di puncak batang pohon pinang yang dilumuri oli, penonton bersorak gemuruh menyaksikan yang gagal meluncur turun belepotan oli. Yang gagal pun terus mengulangi usaha memanjat. Tapi karena amat licin, gagal lagi dan gagal lagi. Kalah.

Ada juga yang berhasil dan menang. Yang menang disambut dengan tepuk tangan yang ramai. Yang menang mengambil banyak hadiah di puncak. Tak jarang yang menang membagikan hadiah perolehannya kepada yang kalah. Mereka yang ikut lomba 17 Agustusan adalah kawan sekampung. Se-Rt se-Rw atau se kecamatan. Yang ikut lomba adalah kawan se tetangga. Yang rumahnya di samping atau di belakang rumah kita. Atau sama-sama satu lorong. Lomba 17 Agustusan itu juga diselenggarakan di lorong itu. Pesertanya adalah anak-anak dan pemuda remaja di situ.

Makanya, lomba 17 Agustusan adalah pesta. Pesta ulang tahun kemerdekaan. Yang menang, tertawa dan mendapat hadiah. Juga ditepuktangani yang ramai oleh warga yang menonton. Biasalah, yang menang membagi hadiahnya kepada yang kalah. Apalagi hadiahnya adalah satu keranjang cokelat atau buah. Yang kalah masih tertawa juga.

Juga ditepuktangani seraya ditertawai oleh warga se lorongnya yang menonton. Semakin ramai sorak sorai penonton karena yang kalah dengan senang hati melahap cokelat atau buah pemberian dari yang menang. Peserta lomba 17 Agustusan adalah petarung sejati. Kalah menang sama saja. Kalah menang selalu bermuatan kegembiraan. Kalah menang sudah selesai pada Agustus saat ini. Kita bertarung lagi pada lomba Agustusan tahun akan datang. Lomba ini adalah pesta. Kalah menang, milik kita bersama.

Apakah politisi yang ikut pemilu dan pilkada punya pengalaman ikut lomba 17 Agustusan sewaktu masih kecil dan pemuda(i) remaja? Yang menang dan sombong, atau yang susah menerima kekalahannya, mungkin semasa kecil dan remaja tidak pernah ikut lomba 17 Agustusan. Kalau pernah, maka pemilu dan pilkada itu disikapi sebagai pesta.

Pesta demokrasi. Kalah menang adalah tanda permainan sudah selesai. Yang menang membagi “cokelat” hadiahnya. Lalu, kita tunggu bulan Agustus berikutnya untuk lomba lagi… Remaja pemanjat pohon pinang 17 Agustusan, ternyata lebih arif dalam menyikapi pesta ultah kemerdekaan ketimbang banyak politisi tua yang susah menerima kalah dalam pesta demokrasi! Biarkanlah putra putri anda ikut lomba 17 Agustusan. Semoga kalau menjadi politisi bersikap yang benar ketika kalah atau menang! (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...