Menumpuk… Beras Terancam Membusuk di Gudang Bulog, Dirut Budi Waseso Gelisah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Dirut Perum Bulog, Budi Waseso menyatakan kegelisahannya beras yang semakin menumpuk di gudang Bulog. Sehingga beras tersebut terancam busuk jika tidak segera disalurkan.

“Kapasitas gudang kita 2,6 juta ton, sekarang sudah mencapai 2,3 juta ton. Tinggal 300 ribu ton lagi penuh, tidak bisa menyerap lagi. Tinggal nunggu busuk karena tidak disalurkan,” kata mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu.

Menumpuknya beras di gudang Bulog, salah satunya karena Bulog tidak dilibatkan dalam penyaluran BNPT. Masalah lain, impor beras yang masih terjadi.

Pemerintah tengah mencari jalan keluar bagaimana caranya untuk menyalurkan beras Bulog yang menumpuk di gudang. Karena kelamaan di simpan di gudang, beras tersebut terancam busuk.

Salah satunya penyebabnya Bulog tidak dilibatkan dalam penyaluran Bantuan Pangan Nontunai (BNPT). Hal itu menyebabkan pendistribusian beras menjadi tersendat.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, telah melakukan konsultasi kepada Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution. Hasilnya, beras Bulog akan disalurkan ke e-warung.

“Saya percaya bahwa Bulog mampu untuk mensuplai beras dengan kualitas baik ke e-warung,” kata dia di Jakarta, kemarin (28/6).

Selain itu, beras Bulog juga akan dilibatkan dengan BPNT. Untuk skemanya tidak akan berbeda dengan supplier beras lainnya. Namun khusus Bulog akan diutamakan oleh pemerintah.

“Pokoknya kami utamakan Bulog untuk bisa menyalurkan dalam BPNT. Tentu dengan kualitas yang sudah siap ya. Saya kira sekarang Bulog sudah siap tuh, kualitasnya sudah bagus-bagus,” tuturnya.

Pengamat pertanian, Dwi Andreas mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi menumpuknya beras dengan mendistribuskan beras Bulog melalui e-warung.

“Saya sangat sependapat dengan Menteri Sosial, Agus Gumiwang memasukkan beras Bulog ke e-warung. Karena Bulog memiliki keunggulan komparatif dan memiliki tawaran tetringgi memajukan e-warung dibandingkan pihak swasta,” katanya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Kamis (28/6/2019) kemarin.

Dia pun juga mendukung Bulog dilibatkan dalam BNPT. Menurut dia program BNPT sangat bagus dibandingkan beras miskin (raskin) atapun beras sejahtera (rasta), di mana BNPT sangat transparan dan jauh dari kecurangan.

“Tidak perlu lagi diperdebatkan apakah BNPT salah atau tidak. Itu sudah tepat,” ujar dia.

Saran untuk Bulog. Dwi meminta harus ada perombakan besar-besaran harus dikembalikan fungsi semula sesuai UU Nomor 18/2012, sehingga Bulog dikendalikan langsung oleh badan yang memiliki otoritas tinggi yang bertanggung jawab langsung ke presiden.

“Sekarang kan dikendalikan sembilan kepala (di bawah BUMN, Kementerian Petranian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koordinator Perekonomian dll). Sehingga Bulog memiliki kelulasan yang besar untuk memutuskan sebuah kebijakan,” saran dia. (fin/sam)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...