Sistem Open Camp, 200 Warga Binaan Ditempatkan di PP Ciangir

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, TANGERANG—Program Revitalisasi Pemasyarakatan yang digerakkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM mengalami percepatan dengan dibukanya  Permukiman Pemasyarakatan (PP) Ciangir, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Jumat 28 Juni. Pembukaan itu juga menandai dimulainya kerja sama antara Ditjen PAS Kemenhumkam dengan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan).

“Hari ini kita mengawali program revitalisasi penyelenggaraan pemasyarakatan dengan konsep open camp,” ujar Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenhumkam Sri Puguh Budi Utami.

Sebanyak 200 warga binaan pemasyarakatan  akan mengisi Permukiman Pemasyarakatan Ciangir. Mereka akan melewati proses reintegrasi sosial, seraya melatih kemampuan bercocok tanam, beternak, dan budi daya ikan, di atas lahan seluas 30 hektare. Dirjen Utami  berharap Agustus mendatang warga Permukiman Pemasyarakat Ciangir bisa melakukan panen perdana.

Badan Ketahanan Pangan Kementan menyediakan bibit berbagai jenis tanaman dan secara berkala menurunkan tenaga penyuluh. Setiap warga binaan akan mendapat bimbingan, sesuai minat masing-masing; bercocok tanam, beternak, dan budi daya ikan.

“Mereka yang akan mengisi Permukiman Pemasyarakatan Ciangir harus melewati assessment, karena ini pemasyarakatan dengan konsep open camp. Di sini, masyarakat bisa melihat proses pembinaan dan berinteraksi. Warga binaan bisa berinteraksi dengan warga sekitar,” kata Utami.

Permukiman Pemasyarakatan Ciangir, menurut Utami , akan menjadi rumah harapan bagi warga binaan, pemerintah, dan masyarakat. Di tempat ini, setiap warga binaan akan ditempa menjadi individu mandiri, dan berkontribusi bagi pembangunan nasional, khususnya di sektor pertanian.

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai pemasaran produk pertanian warga binaan, Utami menjamin hal itu. “Yang pertama adalah dari pihak kami, seluruh kebutuhan makan warga binaan dibeli dari sini, terutama lapas rutan wilah Banten dan DKI Jakarta,” jelasnya.

Menurut Dirjen, untuk jangka panjang Ditjen PAS akan menjadikan Permukiman Pemasyarakatan Ciangir sebagai kawasan agroindustri dan agrowisata. Tanaman yang dikembangkan bernilai ekonomi tinggi, agar setiap warga binaan memiliki kontribusi bagi bangsa dan negara lewat pertanian. “Agroindustri akan meningkatkan penghasilan warga binaan dan masyarakat sekitar,” kata Utami.

Khusus agrowisata, Dirjenpas  mengatakan ada sungai tidak jauh dari Permukiman Pemasyarakatan Ciangir, yang akan menjadi daya tarik wisatawan. Daya tarik lainnya adalah sebagian kawasan Ciangir akan disulap menjadi kebun berbagai jenis buah-buahan, dengan para warga binaan berinteraksi dengan pengunjung. “Lapas Open Camp ini juga bisa menjadi sarana edukasi siswa SMP dan SMA,” ujarnya.

Berbicara usai menanam pohon buah-buahan bersama Kepala Badan Ketahanan Pangan Kemenerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi, Utami menjelaskan soal revitalisasi lembaga pemasyarakatan (lapas). Menurutnya, revitalisasi membagi lapas menjadi empat jenis;  super maximum security, maximum security, medium security, dan minimum security.

Warga binaan yang dinilai membahayakan, dan cenderung mengulangi perbuatannya, akan ditempatkan di lapas dengan penjagaan ketat. Jika sebaliknya, warga binaan akan menghuni lapas yang lebih longgar, bahkan sangat longgar.

Penilaian terhadap warga binaan dilakukan setiap hari, dengan indikator-indikator yang telah tersusun sedemikian rupa. Penghuni Permukiman Pemasyarakatan Ciangir, kata Sri Puguh, adalah mereka yang terus-menerus memperlihatkan perilaku baik dan siap dibina untuk menjadi indiviu mandiri. “Setelah mereka memperlihatkan perilaku baik, kami akan membinanya menjadi individu mandiri, dan siap berintegrasi dengan masyarakat setelah bebas,” kata Utami.

Dirjenpas yakin, revitalisasi lapas, lewat Permukiman Pemasyarakat Ciangir akan menghasilkan masyarakat eks warga binaan yang produktif, dan bertanggung jawab bagi pembangunan bangsa. Di sisi lain, masyarakat juga akan menerima mereka dengan tangan terbuka.

Permukiman Pemasyarakatan Ciangir adalah lapas minimum security dengan konsep open camp pertama di Indonesia. Saat ini di kompleks lapas hanya ada beberapa bangunan, berdampingan dengan rumah penduduk, persawahan, dan lahan kebuh siap garap.

Warga binaan penghuni pertama kompleks pemasyarakatan ini yang akan mengubah lahan kosong menjadi perkebunan, mengubah lahan lainnya menjadi lokasi budi daya ikan lele, atau peternakan. Juga akan ada pelatihan pembuatan biogas, yang memungkinkan kompleks pemasyarakatan memenuhi kebutuhan energi.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi mengatakan siap membantu Ditjen PAS membina penghuni lapas minimum security menjadi individu produktif yang membangun bangsa di sektor pertanian. “Semangat kami dan Ditjen PAS sama, yaitu memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan,” ujarnya. (rls/amr)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...