Viral Ustaz Borong Miras, Bacalah Kisah Sultan Murad IV dan Jenazah “Pemabuk” Ini

Sabtu, 29 Juni 2019 - 20:42 WIB
Video saat Ustaz M Ikhwan Djalil menumpahkan miras yang telah dibelinya. (Screenshot)

FAJAR.CO.ID — Setelah viralnya video Ustaz Muhammad Ikhwan Djalil memborong miras di Pantai Bira, sejumlah netizen mengaku salut atas aksi yang menginspirasi itu.

Salah seorang netizen, Mustain Ruddin, kemudian membagikan sebuah kisah inspiratif lain dari masa Khilafah Turki Usmani. Berikut kisahnya:

Dalam buku hariannya, Sultan Turki Murad oglu Ahmed atau Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kegalauan yang sangat, dia ingin tahu apa penyebabnya. Maka dia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Sultan Turki Utsmani periode 10 September 1623 hingga 9 Februari 1640 ini pun berkata kepada kepala pengawal, “Mari kita keluar sejenak”.

Di antara kebiasaan Sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar.

Sultan dan pengawalnya lantas pergi berkeliling kota hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit.

Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata dia telah meninggal.

Namun, orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikit pun memedulikannya.

Sultan pun memanggil warga yang tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan.

Mereka bertanya, “Apa yang kau inginkan?”.

“Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya?” Sultan menjawab.

“Siapa dia, di mana keluarganya?” tanya Sultan.

Warga berkata, “Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzinah!”.

Sultan menimpali, “Tapi..bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya”.

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya.

Melihat suaminya meninggal, sang istri pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi. Tinggallah Sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya, sang istri berucap kepada jenazah suaminya, “Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang saleh.”

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget. “Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu. Sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?”

Sang istri menjawab, “Sudah kuduga pasti akan begini. Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin.”

“Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.”

“Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam.”

“Orang-orang pun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur. Lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.”

“Suatu kali, aku pernah berkata kepada suamiku: Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menyalatimu dan menguburkan jenazahmu.”

“Ia hanya tertawa, dan berkata: Jangan takut, bila aku mati, aku akan disalati oleh Sultannya kaum muslimin, para ulama dan para wali.”

Mendengar itu semua, Sultan Murad pun menangis, dan berkata, “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, menyalatkannya dan menguburkannya.”

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para wali Allah dan seluruh masyarakat. (sam)

Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhary dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV