Georgia

0 Komentar

Oleh: Aidir Amin Daud

Georgia dengan ibu kota Tbilisi adalah negeri pecahan Soviet. Sepertinya tidak tidak terlalu memiliki sumber daya alam yang berlebih. Tahun 1995 -Georgia memisahkan diri dan Eduard Shevardnadze (mantan Menlu Uni Soviet) dipilih menjadi Presiden Georgia. Eduard dikenal sebagai ‘rubah putih (tetri melia)’ karena kemahiran politiknya. Namun pada tahun 2003 ia turun dari tahtanya karena gerakan revolusi mawar. Revolusi ini adalah sebuah perubahan damai yang dipimpin Mikheil Saakasnvili. Para pengunjuk rasa bergerak ke parlemen dengan membawa mawar merah di tangan masing-masing.

Akhir tahun lalu, Georgia memiliki Presiden baru seorang wanita: Salome Zourabichvili. Ia mantan Menlu Georgia. Sebelum menjadi Menlu Georgia, Salome adalah seorang diplomat Prancis. Terakhir wanita keturunan imigran Georgia di Prancis ini menjabat sebagai Dubes Prancis untuk Georgia. Entah bagaimana kisahnya, ia kemudian ditunjuk menjadi Menlu Georgia.
***

Dua pekan lalu, ribuan orang, dan didominasi para anak muda menyatakan ketidaksukaannya kepada parlemen dan pemerintah karena memberi ruang kepada rombongan parlemen Georgia.

Anggota parlemen Rusia, Sergei Gavrilov diundang untuk berbicara sebagai ketua delegasi Rusia dari Majelis Antarparlemen untuk Ortodoksi, kelompok yang mengupayakan ikatan yang lebih dekat antara anggota parlemen Kristen Ortodoks. Gavrilov mulai berpidato dari kursi ketua parlemen -dalam bahasa Rusia –yang kemudian memicu kemarahan. Sesi itu tidak dilanjutkan setelah istirahat karena kekacauan di dalam dan luar gedung dan penjaga mengawal Gavrilov kembali ke hotelnya.

Polisi anti huru-hara di Georgia, Kamis (20/6), menembakkan peluru karet dan gas air mata ke arah demonstran yang berusaha menyerbu parlemen. Mereka melakukan aksi tersebut karena kesal setelah seorang anggota parlemen Rusia berpidato. Kebanyakan rakyat Georgia tidak menyenangi Rusia. Mereka menilai Rusia adalah negeri penjajah dan terus berusaha menintervensi wilayah Georgia.

Beberapa tahun lalu ribuan orang turun ke jalan-jalan untuk memprotes apa yang mereka sebut sebagai pendudukan Moskow atas wilayah Ossetia Selatan dan Abkhazia. Dalam aksinya, mereka membawa spanduk bertuliskan “Hentikan Rusia!” dan meneriakkan “Georgia”. Mereka menuduh, Kremlin terus menggunakan kekuatan yang keras dan lembut dalam upayanya untuk menundukkan Georgia.

Rusia bahkan pernah dituding memindahkan penanda perbatasan lebih jauh ke wilayah yang dikuasai Georgia di dekat kawasan separatis Ossetia Selatan yang didukung Kremlin. Pemindahan tersebut menyebabkan sebagian jalur pipa Baku-Supsa, yang mengangkut minyak Kaspia ke pasar-pasar di negara Barat, di bawah kontrol Rusia. Sumber ekonomi yang harusnya dikuasai Georgia.
***

Selasa malam (25/6) pekan lalu sekitar seribuan orang kembali berunjuk rasa. Bersama beberapa kawan saya menonton aksi unjuk rasa dan mendengarkan beberapa orasi — dalam bahasa Georgia — yang sama sekali kami tak pahami. Tak banyak polisi atau petugas keamanan yang hadir. Di tiga ujung jalan hanya ada terparkir 3 mobil patroli polisi dan ada dua orang polisi yang mengarahkan mobil agar tidak melintas di depan gedung parlemen Georgia.

Sorak-sorai berlangsung sampai larut malam. Dari balik jendela kamar hotel Marriott Tbilisi Georgia — di seberang gedung parlemen Georgia — malam itu sepertinya tak ada keributan apapun kecuali sorak-sorai dan tepukan tangan. Damai. Rabu pagi (26/6) itu, saya dan Mantan Wawali Makassar Dg Ical berdiri di halaman gedung parlemen itu, menghirup udara segar di antara pepohonan yang rimbun, di sepanjang trotoar yang ada. Tak ada tanda-tanda malam sebelumnya ribuan orang berunjuk rasa di situ.***

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...