Susah Sinyal

0 Komentar

Oleh: Hamdan Juhannis

Pernahkah Anda berjalan atau melewati suatu perkampungan lalu di situ tidak ada sinyal HP, atau sinyalnya timbul tenggelam? Saya mencoba menggambarkan kemungkinan perasaan Anda saat itu. Mungkin Anda berpikir betapa rumitnya hidup di tempat itu karena tidak bisa berkomunikasi dengan yang lain. Mungkin anda berpikir bagaimana kalau sekiranya anda dalam situasi ‘emergency’ tapi tidak bisa menelepon rumah sakit, nomor polisi, atau pemadam kebakaran.

Anda juga mungkin berpikir bagaimana bisa menggunakan medsos atau berselancar di dunia maya, yang sudah menjadi bagian dari aktivitas rutin Anda? Intinya ada di antara pembaca yang mungkin tidak siap hidup dengan tidak adanya sinyal.

Saya sering melalui tempat seperti gambaran di atas kalau pulang kampung. Namun, saya mencoba membaca denyut nadi orang-orang yang ada di tempat tersebut. Mereka tetap ramai, suasananya hidup, kumpul-kumpulnya lancar, dan senyumnya tetap merekah.

Saya berpikir, mereka itulah wajah kita dahulu sebelum mengenal sinyal HP. Dulu, Kita yang orang kampung rajin berkumpul, bercengkrama, di sudut- sudut kampung atau di teras rumah. Kita tidak pernah berpikir kalau sakit harus diangkut pakai ambulance ke kota karena ada dukun yang diyakini sangat mujarab mengobati atau kita bisa menunggu besoknya untuk berjalan ke puskesmas.

Kalau ada keributan, kita tidak mengingat untuk menelepon kantor polisi karena lebih cepat diselesaikan secara adat. Kalau rindu sesama keluarga yang pergi merantau, mekanisme kita adalah menunggu besok untuk ke kantor pos atau mengirim telegram.

Warga yang tidak memiliki sinyal HP sekarang adalah penggambaran kita yang sebenarnya dahulu yang mulai merasakan hidup sebelum HP ditemukan. Kita tetap memiliki sinyal, namanya sinyal hati. Tepatnya mungkin adalah telepati kita yang menjadi sinyal. Hati kita sudah begitu terpaut. Kita berjanji berkumpul dengan hati. Kita sudah saling tahu. Kalau kita ingin mencari seseorang, sinyal kita ada pada kebiasaan, jam berapa biasanya yang dicari ada di rumah.

Sinyal komunikasi begitu kuat dan berkesan. Saat bertemu jangankan pesan saat berbicara, tatapan saja sudah memberi tahu maksud yang ingin disampaikan. Jadi itulah penggambaran orang yang hidup di lingkungan tanpa sinyal. Mereka tidak butuh sinyal HP karena sinyal inderanya begitu kuat bekerja. Sinyal empatinya terlatih.

Hanya kita yang bingung bagaimana mereka hidup, sama bingungnya mereka sekiranya melihat kita hidup sesama keluarga tapi tidak saling bersapa karena sibuk berselancar sendiri dengan sinyal. Saat saya berbicara dengan teman tapi dia tetap sibuk dengan HP-nya, tiba-tiba terpikir ingin kembali ke zaman itu tapi saya tidak yakin apakah ada yang mau menemani saya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...