Program Khatam Alquran di Rutan Salemba Pastikan Napi tak Kembali

Jumat, 5 Juli 2019 - 00:11 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pesantren At-Thawabien Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Salemba Jakarta Pusat akan meluluskan 68 santri yang telah mengkhatamkan Alquran.akhir bulan ini.  Santri-santri yang khatam Alquran tersebut merupakan mereka yang lulus dari 100 santri angkatan ke-48 yang menjalani pembinaan Pesantren At-Tawabien Rutan Salemba, dari sekitar 4.470 warga binaan yang ada di sana.

“Salah satu program pembinaan kepribadian yang rutin kami laksanakan adalah program santri Pesantren At-Tawabien, yang di antaranya mencakup program khatam Alquran bersama-sama,” kata Kepala Rutan Kelas 1 Jakarta Pusat  Masjuno.

Menurut Masjuno, pesantren At-Tawabien adalah program rutin yang digelar setahun tiga kali selama masing-masing tiga bulan. Selama itu para santri yang berasal dari warga binaan menjalani pembinaan kerohanian dalam nuansa sebagaimana laiknya di pesantren, termasuk mengkhatamkan atau menamatkan bacaan Alquran mereka. Hingga saat ini program tersebut sudah berlangsung 48 angkatan, alias sudah berjalan setidaknya 16 tahun.

Setiap angkatan terdiri dari sedikitnya 100 orang santri yang diseleksi dari warga binaan yang berminat. Dengan animo warga binaan untuk ikut begitu besar, sementara fasilitas terbatas, membuat seleksi menjadi keharusan. “Kami melalui Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) yang menyeleksi melihat bagaimana tingkat kemampuan dan kemauan calon santri,” kata Masjuno.

Tetapi menurut dia, para peminat yang tak lolos karena kurangnya kemampuan membaca tidak lantas terpinggirkan. “Kami fasilitasi. Kalau kami menemukan ada yang bahkan buta aksara Alquran tetapi menunjukkan minat dan kemauan yang besar, kami buatkan kelas khusus. Mungkin juga dengan melibatkan teman-teman mereka sesama warga binaan untuk mengajari,” kata Kepala Rutan Salemba itu.   

Tentang besarnya minat untuk menjadi santri, Masjuno tak ingin berpikir negatif apakah hanya untuk katarsis, yakni mencari kegiatan di tengah kekosongan aktivitas atau apa pun kecurigaan yang ada. “Kalau pun mereka berpura-pura, tak masalah. Berpura-pura ke masjid bagi preman itu berat. Berpura-pura shalat pun bagi preman itu berat. Bolehlah mulai dari kepura-puraan, kalau terus dilakukan, kami berharap itu jadi kebiasaan,” kata dia.

Menurut Kepala Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Salemba Pance Daniel, santri yang lulus tahun ini sedikit berkurang dari rata-rata setiap tahun. “Biasanya lebih dari 68 orang. Selalu lebih banyak,” kata Pance yang mengaku belum mencari sebab adanya penurunan tersebut.

Namun menurut dia, para santri yang gagal khatam dan otomatis tidak lulus itu biasanya karena sering tidak hadir tanpa keterangan, atau memang tidak bisa mengikuti materi kegiatan yang dilaksanakan.

Kolega Pance yang menjadi koordinator kegiatan keagamaan, Suriyanta Leonardo Situmorang, mengatakan tak jarang dari para santri itu bahkan menjadi penghafal  (hafiz) Alquran. “Hanya untuk itu mereka harus ikut kegiatan santri lanjutan, dengan persyaratan yang juga harus mereka penuhi,” kata Surya.

Yang jelas, Masjuno, Pance maupun Surya mengakui dampak positif program khatam Alquran bersama tersebut sangat terasa. “Perilaku warga binaan yang menjadi santri itu berubah, rata-rata sangat positif,” kata Surya.

Pance bahkan mengaku selama dirinya bertugas tak pernah menemukan para santri yang telah bebas kembali bertemu dengannya di dalam Rutan, alias menjadi residivis. “Sampai saat ini tak ada,” kata dia. “Entah kalau masuknya ke tempat lain. Tetapi semoga saja tak ada.”

Dalam kesempatan berbeda Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami menegaskan pentingnya pembinaan keagamaan di dalam Lapas maupun Rutan. Kegiatan tersebut menurut Dirjenpas sangat strategis, mengingat hal itu bisa meningkatkan kapasitas sumber daya manusia para santri yang merupakan warga binaan.

“Kegiatan pembinaan keagamaan seperti itu harus kita apresiasi karena memungkinkan pembinaan yang lebih baik lagi, baik dari sisi mental maupun kepribadian, dengan cara yang lebih manusiawi,” kata Utami.

Apalagi, menurut Dirjen Utami, sejak tahun baru Islam 1440 Hijriyah, September 2018 lalu, Ditjenpas telah mencanangkan penghapusan buta huruf Alquran bagi para WBP Muslim. “Sejak hari pertama 1440 H, dengan niat tulus dan ikhlas kita semua berharap menjadi insan Illahi yang lebih baik dan bertakwa,”kata Utami, saat itu. (yon)