Delegasi Kedubes Uni Eropa Kagumi Masjid 99 Kuba

Sabtu, 6 Juli 2019 - 22:35 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Sejumlah diplomat dari delegasi dan Kedutaan Besar (Kedubes) negara-negara anggota Uni Eropa (UE) melakukan kunjungan resmi selama dua hari di Makassar, Kamis dan Jumat (4-5/7/2019).

Kunjungan ini bertujuan untuk mempromosikan Eropa dan memperkuat hubungan dengan para pemangku kepentingan.

Selama dua hari berkunjung di Makassar Delegasi Diplomat dan para Kedubes negara-negara anggota Uni Eropa ini mengaku kagum dengan keramahtamahan masyarakat. Termasuk mengakui kemajuan kota Makassar yang begitu pesat namun tetap mempertahankan tradisi dan budaya lokalnya.

Salah satu ikon kota yang dikagumi yakni Masjid 99 Kuba di Kawasan Center Poin of Indonesia (CPI) Tanjung Bunga.
Mereka sempat berkunjung ke masjid tersebut, Kamis 4 Juli 2019 dan mengabadikan foto bersama.

“Pembangunannya pesat tapi tidak menghilangkan akar-akat budayanya.  Ini yang kami kagumi dari kota ini. Kami juga terkesan dengan multikultur dan keramahtamahannya,” ungkap Dubes  Polandia Beata Stoczynska dalam konferensi pers di salah satu cafe di bilangan Jl Ujungpandang, Jumat (5/7/2019) sore.

Para petinggi UE dipimpin kuasa usaha ad interim delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Charles Michel Geurts. Delegasi ini terdiri dari beberapa Duta Besar (Dubes). Mereka adalah Dubes  Polandia Beata Stoczynska, Dubes Finlandia Jari Sinkari, kuasa usaha Kedubes Belanda Ferdinand Lahnstein, kuasa usaha Kedubes Belgia David Van Lirde, wakil Kepala perwakilan Kedubes Denmark Soeren Bindesnoell, First Counsellor Kedubes Perancis Charles Henri Brosseau, Counsellor Kedubes Portugaal Mariana Oom dan Kepala Bagian Kedubes Italia Giandomenico Milano.

Para Diplomat ini mengawali kunjungannya dengan menemui Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah  dan Penjabat Walikota Makassar, M Iqbal S Suhaeb. Juga mengunjungi Pelabuhan Makassar dan bertemu dengan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel.

Bertemu dengan sejumlah perwakilan LSM juga menjadi agenda mereka. ‘’Kami berkesempatan bertukar pandangan seputar isu-isu sosial termasuk HAM, kebebasan berpendapat, inklusivitas bagi penyandang disabilitas, kesetaraan gender, perlindungan anak hingga masalah pelestarian lingkungan dan perubahan iklim,” jelas Charles Michel Geurts.

Sementara itu terkait impor sampah plastik yang masuk ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia  Geurts mengaku tengah melakukan penelusuran.

 ‘’Kami sangat mendukung pengurangan pemakaian plastik sekali pakai. Karena itu impor sampah plastik ke negara lain tengah kami telusuri,” katanya.

Menurutnya,  sampah plastik sebenarnya dapat diolah kembali sehingga memiliki nilai ekonomi. Seperti diakui Jari Sinkari. Di  Finlandia, misalnya, menurut dia, di negaranya telah berhasil melakukan pengolahan terhadap sampah plastik hingga 95 persen.

“Sisanya, hanya lima persen sampah plastik yang terbuang,” ungkap Sinkari. (*)