Perlakuan Khusus CJH asal Pacitan Saat Masuk Asrama

Minggu, 7 Juli 2019 - 15:45 WIB

FAJAR.CO.ID, SURABAYA–Kejadian luar biasa (KLB) hepatitis A yang terjadi di Pacitan, diantisipasi betul Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Surabaya. Skrining ulang terhadap calon jamaah haji (CJH) dilakukan saat mereka tiba di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) kemarin (6/7). Ada 197 jamaah yang menjalani pengambilan sampel darah dan pemeriksaan fisik tersebut.

CJH dari Pacitan tergabung dalam kloter 4 embarkasi Surabaya. Pukul 11.00, mereka mulai masuk lingkungan asrama. Seperti biasa, mereka dikumpulkan dalam satu aula untuk pembagian gelang identitas dan alat pelindung diri (APD).

Namun berbeda dengan kloter sebelumnya, jemaah dari Pacitan mendapat perlakuan khusus. Mereka harus menjalani pemeriksaan kesehatan lagi. Meskipun di daerah sudah dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalkan CJH terjangkit virus hepatitis A yang menular.

Kepala KKP Kelas I Surabaya M. Budi Hidayat mengatakan, pemeriksaan kesehatan itu meliputi pengambilan sampel darah CJH. Lalu, pemeriksaan fisik seperti kondisi kornea mata dan wawancara. ’’Kami lakukan sebaik mungkin agar potensi hepatitis A menular bisa dihindari,” ujarnya saat memimpin langsung proses skrining tersebut Budi mengatakan bahwa aktivitas di Tanah Suci membuat jamaah cepat lelah. Kondisi itu dikhawatirkan bisa berpengaruh terhadap imunitas. Nah, jika terpapar hepatitis, mereka dikhawatirkan bisa menularkan ke yang lain.

Satu per satu CJH dipanggil. Lantas, mereka diberi beberapa pertanyaan tentang aktivitas sehari-hari. Mulai jenis air yang digunakan, ke mana terakhir pergi, hingga riwayat penyakitnya. Hal itu bertujuan untuk memastikan apakah mereka pernah berinteraksi dengan penderita hepatitis atau mengonsumsi air yang tercemar. Misalnya, yang dijual dengan gerobak dorong.

Lantas, sampel darah diambil dan diperiksa langsung di lokasi dengan rapid test. Setelah setengah jam, hasil tes diketahui. Dilanjutkan pemeriksaan fisik seperti pupil dan telapak tangan. ”Paling mudah kalau terkena hepatitis, matanya berwarna kuning,” ujar Budi.

Sosialisasi soal perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan cuci tangan pakai sabun (CTPS) juga diberikan. Ada pula jamaah yang berinisiatif untuk membawa hand sanitizer dan dibagikan kepada jamaah yang lain. ”Sejak dari daerah kami sudah diingatkan soal hepatitis A ini. Uji lab juga dilakukan,” ujar Sutrisno, salah satu ketua rombongan.

CJH juga diwajibkan mengonsumsi dua jenis obat yang direkomendasikan Dinas Kesehatan Pacitan. Yakni, Lesichol dan Neurobion. ”Diminta beli masing-masing 2 strip. Habis Rp 600 ribu untuk dua obat ini. Katanya untuk pencegah hepatitis A,” jelas Sutrisno.

Setelah dua jam proses pemeriksaan, Budi mengatakan bahwa kondisi seluruh CJH dari Pacitan cukup baik. Mereka negatif dari hepatitis A. Kalaupun ada yang positif, pasti diambil tindakan medis dan dirujuk ke rumah sakit untuk diobati. Setelah sehat, mereka baru diperbolehkan untuk berangkat. (jp)

Loading...