Ekspor Nasional Turun, Pelabuhan Tanjung Priok Beroperasi 24 Jam

Senin, 8 Juli 2019 - 09:12 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Turunnya nilai ekspor Indonesia sepanjang Mei 2019 periode yang sama tahun lalu, membuat pemerintah putar akal untuk mengoptimalkan kinerja ekspor nasional. Guna mengatasi itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membuat terobosan baru.
Kementerian besutan Budi Karya itu bakal memberlakukan pengoperasian pelabuhan Tanjung Priok setiap hari dan 24 jam non stop.

Menteri perhubungan (Menhub), Budi Karya mengatakan, kebijakan tersebut diberlakukan dalam rangka meningkatkan jumlah ekspor melalui pelabuhan Tanjung Priok. Untuk memuluskan kebijakannya tersebut, pembantu kabinet kerja Joko Widodo (Jokowi) itu telah berkoordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan untuk merealisasikan kebijakan anyarnya tersebut.

Pemangku kepentingan yang dimaksudkan Budi, antara lain otoritas pelabuhan, Syahbandar, Bea Cukai, Imigrasi, Operator Pelabuhan, Bank dan pemangku kepentingan terkait lainnya. Mereka ditugaskan untuk melakukan pelayanan optimal secara terus menerus selama 24 jam dan 7 hari dalam seminggu.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya Pelabuhan Tanjung Priok pernah hanya beroperasi produktif sebanyak 3 hari dalam seminggu. Belakangan ini waktunya bertambah jadi 4 sampai 5 hari. Ke depan, Budi ingin mendorong pelabuhan tersebut beroperasi 7 hari dan 24 jam non stop.

Humas PKS Sulsel Terbaik ke-2 di PR SUMMIT 2019

Hilda Sempat Hamil dari Benih Kriss Hatta?

Komisioner KPK Harus Punya Kepekaan Hukum yang Tinggi

“Agar orang-orang yang melayani di sini waktunya tersebar dan fasilitas tol, truk itu terbagi rata di 7 hari, sehingga produktivitas itu lebih baik,” kata Budi Karya usai mengadakan rapat dengan jajaran stakeholder Pelabuhan Tanjung Priok, di Kantor Bea Cukai Tipe A Tanjung Priok, Jakarta Minggu (7/7).

Budi Karya juga mengilustrasikan seandainya kebijakan tersebut telah berlaku aktif di Tanjung Priok. Estimasinya, pengangkutan truk barang akan semakin efisien. Dampak lainnya, membuat lalu lintas jalanan dari dan menuju pelabuhan tidak terlalu macet.

“Misalnya waktu pelayanan 3 hari, apabila ada eksportir yang ingin mengirim 14 kontainer barang, maka dalam satu hari harus ada 5 truk kontainer yang berjalan dalam sehari. Namun jika waktu pelayanan menjadi 7 hari maka dalam satu hari hanya dibutuhkan 2 truk kontainer saja,” katanya.

“Jadi jalannya lengang. Dengan lengang itu maka kecenderungan untuk melakukan kegiatan ekspor khususnya itu bertambah. Pasti bertambah. Karena kemudahan itu equivalen dengan pertambahan jumlah. Kalau ini semua lancar maka otomatis yang ekspor juga menjadi lebih banyak,” tambahnya.

Selain itu, Budi Karya juga memberikan perhatian khusus terhadap adanya Empty Container (kontainer kosong) dalam impor barang. Menurut Budi, banyak kontainer yang setelah melakukan proses impor barang, truk-truk kontainer tersebut berjalan dalam keadaan tanpa muatan atau kosong.

Kabinet Jokowi Harus Memadai bagi Anak Muda

Pertumbuhan Industri Alas Kaki Melambat

Tim Ekonomi Jokowi Harus Jawab Pertumbuhan Ekonomi yang Stagnan

Karena itu, hal ini akan dikoordinasikan lebih lanjut agar truk-truk tersebut tidak berjalan dalam keadaan kosong. “Kita akan minta kepada cargo owner, atau shipping line untuk menyiapkan supaya jangan ada truk yang kosong. Kita upayakan itu dalam keadaan terisi,” tuturnya.

Kemenhub juga berencana akan untuk membuat sistem yang akan mengatur teknis mengenai alur impor dan ekspor barang di pelabuhan. Untuk membahas itu, pihaknya akan menggandeng INSWm Inaportnet, Bea Cukai, Pelindo, Syahbandar dan OP. Mereka bersama pemerintah dan para banker akan melakukan rapat untuk membahas detail masalah tersebut pada pekan depan.

Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2019 mencapai USD 14,74 miliar. Meski secara month to month (MtM), nilai ekspor meningkat sebesar 12,42 persen. Tapi jika dibandingkan dengan Mei 2018, nilai ekspor justru mengalami penurunan sebesar 8,99 persen. (jp)