Pimpinan MPR Banyak Diperebutkan Elite Parpol

Selasa, 9 Juli 2019 - 13:45 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Komposisi pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), masih terus dibahas partai-partai yang lolos ke DPR. Posisi yang saat ini diduduki Zulkifli Hasan mulai banyak diperebutkan banyak elite parpol.

Saat dikonfirmasi, Ketua DPP PDIP, Hendrawan Supratikno menduga, hanya akan ada dua paket calon pimpinan MPR. Nama-nama kader partai nantinya akan dimasukan dalam dua paket tersebut.

“Kita menduga, hanya akan ada dua paket,” ujar Hendrawan dalam diskusi 4 Pilar yang digelar oleh Humas MPR di Pressroom Parlemen, Senayan, Jakarta Selasa (9/7).

Anggota Komisi XI DPR itu mengatakan, sesuai dengan Undang-Undang MPR, DPR DPD dan DPRD (MD3) dari paket pimpinan MPR tersebut akan ada satu perwakilan dari DPD. Sehingga ia menduga hanya akan ada dua paket pimpinan MPR.

“Jadi memang sesuai Undang-Undang tetap harus ada Wakil DPD. Nanti kita lihat saja pakai satu dan dua” katanya.

Hendrawan menjelaskan, sulit adanya paket pimpinan MPR lebih dari dua. Karena ‎jika lebih dari dua jumlah dukungan akan sangat sedikit dari partai-partai yang lolos ke parlemen.

“Kalau tiga, dukungannya sedikit sekali dong,” ungkapnya.

Selain itu, Hendrawan juga menuturkan, ada wacana agar paket pimpinan bersifat cair, tidak berdasarkan koalisi pada Pemilu Presiden.

“Paket ini nantinya dipersaingkan, Zaman pak Zulhas kita voting sampai pukul 3.20 pagi, saya ingat betul itu, siapa yang menang ini akan menjadi pimpinan kita bersama,” pungkasnya.

Tidak menutup kemungkinan paket pimpinan MPR yang terbentuk nanti merupakan campuran antara partai pemerintah dengan partai koalisi.‎

Misalnya menurut Hedrawan ada fraksi partai yang sekarang di koalisi pemerintah, bergabung dengan paket pimpinan MPR yang dimotori Gerindra.

Ataupun sebaliknya ada partai yang sebelumnya berada di koalisi oposisi kemudian bergabung dengan paket pimpinan yang dimotori PDIP.

“Contoh, PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, terus satu DPD, misalnya PPP ditinggal misalnya, karena yang paling kecil 19 kursi kan. terus kemudian disambut pihak gerindra, PKS, Pan Demokrat,” tuturnya.

Hendrawan menambahkan, paket pimpinan MPR juga dinamis. Tidak hanya mengakomodir kepentingan koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin saja. Melainkan partai-parai lain juga diberikan kesempatan untuk bisa menempati kursi pimpinan MPR.

Pengamat: Tak Jadi Menteri, AHY Lebih Leluasa Bermanuver untuk 2024

Kader Golkar Tak Pede Bertarung di Pilkada Gowa

Ahmad Muzani Sebut Tak Masalah Gerindra Oposisi

“Karena saya kira MPR itu lebih guyub ya. Orang sudah tidak tersekat jadi ini partai oposisi ini koalisi pemerintah,” ungkapnya.

Diketahui, saat ini sudah ada beberapa partai yang membidik kursi Ketua MPR periode mendatang. Mulai dari Partai Golkar, PKB, Nasdem hingga Partai Gerindra.

Adapun paket itu nantinya akan diisi oleh kader partai yang lolos ke DPR. Setelah itu nantinya anggota dewan memilih paket tersebut. Memilih komposisi paket A, atau B untuk bisa menjadi pimpinan MPR.

Diprediksi, jumlah pimpinan MPR ke depan sesuai dengan UU MD3 kembali menjadi 5 orang. Karena sebelumnya ada usulan bahwa pimpinan MPR ditambah menjadi 10 orang sehingga bisa mengakomodir pihak oposisi.

“10 tidak perlu, kita tegas soal itu,” ujar Hendrawan.

Banyak sedikitnya porsi pimpinan, menurut Hendrawan, tentu sangat menyangkut anggaran. Karena itu, anggaran negara harus dikelola seefisien mungkin. “Jadi pimpinan MPR cukup 5 saja dengan kompisisi 1 ketua dan 4 wakil ketua,” paparnya. (jp)