Ali Baba Legenda PSM, Salat Zuhur Jadi Pengharapan Terakhir

Ali Baba adalah legenda. Namanya tetap tumbuh di lapangan hijau, meski jasadnya terkubur di bawah tanah.

Laporan: IMAM RAHMANTO-ABADI THAMRIN

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Ramliah seharusnya menjadi perempuan paling bahagia, saban subuh. Suaminya, Ali Baba, tak pernah lupa mengimaminya dua rakaat.

Keduanya kerap saling menguatkan lewat doa sembari memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. Perempuan beranak tiga itu tak pernah sungkan mencium tangan sang suami usai memanjatkan doa bersama.

Kasih sayangnya benar-benar tak terhingga untuk lelaki yang berprofesi sebagai dosen itu. Kelak, ia baru menyadari, Tuhan lebih menyayangi suaminya lebih dari apa pun.

Salat subuh berjemaah di rumahnya itulah yang menjadi momen paling lekat di benak perempuan Sarjana Ekonomi itu. Wangi punggung tangan sang suami tercium dari balik mukenanya.

Sungguh ia tak pernah menyangka, hari-harinya akan berlanjut tanpa wangi itu lagi. Pun, ia sekaligus kehilangan figur imam yang setiap subuh akan membacakannya ayat-ayat Allah di depannya.

Ramliah tak seorang diri merasakan dukanya. Rasa kehilangan itu menjalar ke seluruh keluarga dan pencinta klub sepak bola PSM Makassar. Bak peluru yang dilepaskan dari senapan, kabar itu menembus linimasa melalui pesan berantai dunia maya.

Ali Baba dikabarkan mengembuskan napas terakhirnya lewat tengah hari di kediamannya Perumahan Permata Mutiara, Jl Daeng Tata, Makassar, Selasa, 9 Juli. Tak ada pertanda apa pun dari pria berusia 51 tahun itu.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi


Comment

Loading...