Ali Baba Legenda PSM, Salat Zuhur Jadi Pengharapan Terakhir

Rabu, 10 Juli 2019 - 10:19 WIB
Ali Baba membela PSM melawan Kejun of Shandong, China pada babak delapan besar Piala Champion Asia di Stadion Mattoanging Makassar. PSM saat itu kalah 3-1. (dokumen)

Ali Baba adalah legenda. Namanya tetap tumbuh di lapangan hijau, meski jasadnya terkubur di bawah tanah.

Laporan: IMAM RAHMANTO-ABADI THAMRIN

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Ramliah seharusnya menjadi perempuan paling bahagia, saban subuh. Suaminya, Ali Baba, tak pernah lupa mengimaminya dua rakaat.

Keduanya kerap saling menguatkan lewat doa sembari memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. Perempuan beranak tiga itu tak pernah sungkan mencium tangan sang suami usai memanjatkan doa bersama.

Kasih sayangnya benar-benar tak terhingga untuk lelaki yang berprofesi sebagai dosen itu. Kelak, ia baru menyadari, Tuhan lebih menyayangi suaminya lebih dari apa pun.

Salat subuh berjemaah di rumahnya itulah yang menjadi momen paling lekat di benak perempuan Sarjana Ekonomi itu. Wangi punggung tangan sang suami tercium dari balik mukenanya.

Sungguh ia tak pernah menyangka, hari-harinya akan berlanjut tanpa wangi itu lagi. Pun, ia sekaligus kehilangan figur imam yang setiap subuh akan membacakannya ayat-ayat Allah di depannya.

Ramliah tak seorang diri merasakan dukanya. Rasa kehilangan itu menjalar ke seluruh keluarga dan pencinta klub sepak bola PSM Makassar. Bak peluru yang dilepaskan dari senapan, kabar itu menembus linimasa melalui pesan berantai dunia maya.

Ali Baba dikabarkan mengembuskan napas terakhirnya lewat tengah hari di kediamannya Perumahan Permata Mutiara, Jl Daeng Tata, Makassar, Selasa, 9 Juli. Tak ada pertanda apa pun dari pria berusia 51 tahun itu.

Kondisi Ali Baba masih segar bugar semenjak menunaikan salat subuh bersama istrinya. Ia juga banyak menghabiskan waktu santainya di dalam rumah.

Tiga anaknya, Nur Abdillah, Muhammad Yusril, dan Ahmad Fiqri sempat menemani di pengujung waktu yang tak disangka-sangka itu. Mereka sekeluarga menghabiskan waktu di dalam kamar Ali Baba dan Ramliah.

Entah takdir apa yang membuat mereka berkumpul di sana dan satu demi satu menyuapi sang ayah yang masih terlihat bugar.

“Kami sempat kumpul sama-sama di dalam kamar. Kami ganti-gantian suapi bapak. Tetapi, tidak ada agenda apa-apa kami berkumpul di dalam kamar karena bapak juga kondisinya biasa-biasa saja, seperti sehari-hari,” ungkap anak bungsunya, Ahmad Fiqri.

Waktu tengah hari itu pula dimanfaatkan mereka sekeluarga untuk salat berjemaah. Ali Baba menjadi imam bagi keluarganya. Kelak, momen terakhir itu pula yang bakal dikenang sepanjang masa oleh anak-anak dan istrinya.

Banyak yang tak pernah tahu, legenda bek PSM itu juga diserang bertubi-tubi oleh penyakitnya dari dalam. Adalah kelenjar getah bening dan tumor hati yang menggerogoti benteng kukuh Ali Baba. Hanya butuh setahun untuk membuat pertahanannya rapuh.

Alhasil, lelaki berusia 51 tahun ini ambruk jua. “Bapak sudah lama berpesan, tidak usah orang-orang, apalagi temannya, tahu kalau dia sakit. Katanya malu jika ditanya kenapa kurus,” lanjut Ramliah dengan matanya yang memerah dan sembap.

Wajahnya kembali dibanjiri air mata kala seorang rekan suaminya di PSM, Sumirlan, menceritakan kiprahnya di Makassar Utama, era 80-an. Ada prestise dan kebanggaan yang tersirat di dalamnya.

Sayangnya, hati justru terasa pilu. Tak ada lagi kepala rumah tangga yang akan menemaninya membesarkan anak-anak kelak.

“Dulu ini temanku yang paling sabar. Baik sekali temannya. Disiplin juga. Akan tetapi, sekali kau singgung, emosinya bahaya sekali,” ucap mantan manajer PSM ini saat melayat ke rumah duka.

Ali Baba menjadi pemain yang sukses membawa trofi Liga Indonesia ke Makassar di eranya, musim 1999-2000. Ia bersama pemain lainnya, Syamsuddin Batola, Kurniawan Dwi Yulianto, Miro Baldo Bento, Aji Santoso, hingga kiper legendaris Hendro Kartiko. Itulah piala tertinggi PSM di kasta liga hingga detik ini.

Para bintang lapangan hijau itu menjadi anak-anak asuh Syamsuddin Umar. Karena mereka, PSM menjadi klub yang disegani di level nasional hingga internasional.

Tak heran, Syamsuddin Umar pun tak ingin ketinggalan menyisihkan waktunya sekadar mengucap doa terakhir bagi sahabatnya itu. Mantan arsitek PSM ini tak pernah menyangka bahwa salah satu sahabat terbaiknya itu pergi begitu cepat.

“Sejak tahun lalu kita tahu almarhum sakit, tetapi tahunya dari teman-teman. Biasa ketemu di lapangan (Karebosi, Emmy Saelan). Akan tetapi, almarhum memang tidak pernah mau memperlihatkan dirinya sedang dilanda penyakit tertentu,” ungkap pensiunan yang pernah menjabat kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulsel ini. (*/rif-zuk)

Siapa Ali Baba?

-Legenda PSM pada 1990-an hingga 2000-an
-Salah satu pemain mampu mempersembahkan juara Liga untuk PSM pada 1999-2000
-Ali Baba juga dijuluki ‘Bangkeng Tongolo’ setelah Bahar Muharram
-Pemain yang semasa kariernya berposisi sebagai gelandang di PSM

Pendidikan:
-Doktor Ilmu Manajemen Pascasarjana UMI, 2013
-Prestasi yang amat jarang diraih pemain bola
-Disertasi: “Pengaruh Pengembangan SDM, Sarana Prasarana, Motivasi, dan Komitmen terhadap Loyalitas dan Kinerja Pengurus PSSI di Indonesia”

Karier :
-Berposisi sebagai gelandang di PSM, 1990-an
-Asisten pelatih PSM (2012)
-Pengamat sepak bola
-Dosen di STIE YPUP Makassar
-Dosen kopertis yang diperbantukan di Jurusan Manajemen STIEM Bongaya

Prestasi:
-Ikut membawa Laskar Pinisi meraih trofi juara para era Liga Indonesia (Ligina), 1999-2000.
-Berduel dengan pemain Shandong Luneng, Cha Kejun pada babak 8 Besar Liga Champions Asia 2001 di Mattoanging

Litbang FAJAR – diolah dari berbagai sumber

One thought on “Ali Baba Legenda PSM, Salat Zuhur Jadi Pengharapan Terakhir

Comments are closed.