Gun Gun Sebut Menteri Muda Tak Boleh Sekadar Simbol

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto mengingatkan bahwa menteri muda tidak boleh sekadar menjadi simbol.

Simbol yang dimaksud adalah angka, yakni yang berusia muda. Dalam arti sekadar memenuhi keinginan presiden untuk memiliki kabinet berisi tokoh milenial.

Lebih dari itu, calon menteri milenial harus layak secara substantif. Dia harus memenuhi sejumlah syarat untuk bisa dipertimbangkan sebagai menteri, yang akan mengemban tugas yang begitu kompleks.

Yang pertama, dia harus punya basis kompetensi. ’’Terutama di leading sector yang dibutuhkan oleh Pak Jokowi,’’ terangnya.

Kemudian, dia juga harus berintegritas. Jangan sampai Jokowi memilih anak muda yang punya potensi masalah di kemudian hari. Baik hukum maupun moral.

Integritas menjadi syarat mutlak selain kompetensi. Sebab, itu berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi pemerintahan.

Masih Status Pacaran Sudah Ajak Mandi Bareng, Ini Jadinya

Thiago Ajak Dembele Tinggalkan Barca dan Mengikutinya ke Bayern

Sekprov: Berita Edukatif Bikin Masyarakat Tangguh

Yang tidak kalah penting adalah kemampuan manajerial. Gun Gun mengingatkan, Jokowi menginginkan seorang eksekutor yang kuat. Artinya, dia harus cepat dan tepat. Bila tidak punya pengalaman mengelola organisasi atau aktivitas manajerial lainnnya, akan berat.

Karena memimpin sebuah perusahaan saja tantangannya sudah berbeda dengan memimpin birokrasi dengan ASN di dalamnya.

Bagi Gun Gun, mengangkat menteri muda pada prinsipnya tidak menjadi soal. Sebab, sejumlah negara juga bisa dikatakan cukup berhasil dengan menteri mudanya. Sebut saja UAE yang memiliki menpora dengan usia 22 tahun.

Belum lagi Malaysia yang menporanya berusia 25 tahun saaat dilantik. Bahkan, Selandia baru saat ini dipimpin Perdana Menteri di bawah 40 tahun, Jacinda Ardern yang usianya 38 tahun.

Satu hal yang perlu diperhatikan Jokowi, dia harus punya proyeksi selama lima tahun dalam mengangkat menteri muda. Menurut Gun Gun, Jokowi sudah punya pengalaman lebih dari cukup untuk bongkar pasang kabinet. Maka bila mengambil menteri, apalagi yang muda, harus bisa diproyeksikan untuk lima tahun. Bukan lagi coba-coba.

Kalangan Profesional Sulit Dapat Tempat di Kabinet Jokowi

Ancelotti Tunggu Gelandang Madrid di Napoli

Loyalis Jokowi, Dua Jenderal Ini Berpeluang Jadi Menteri

Bila Jokowi sampai blunder dalam mengambil menteri muda, kemusian di-reshuffle di tengah jalan karena kinerjanya kurang baik, akan jadi preseden buruk. Tidak hanya bagi Jokowi, namun yang utama bagi anak-anak muda secara keseluruhan.

’’Itu akan mengganggu persepsi publik atas migrasi anak-anak muda ke jalur formal politik di jabatan strategis seperti menteri,’’ lanjutnya.

Karena itu, kehati-hatian sangat diperlukan agar menterinya awet. ’’Kalau Pak Jokowi memilih orang kurang dari 30 tahun misalnya, kita harapkan justru mennjadi rising star baru,’’ tutur Gun Gun.

Dalam arti, kinerjanya nanti akan menonjol. Menteri itulah yang akan mematahkan anggapan bahwa anak-anak muda tidak mampu dan tidak berpengalaman.

Gun Gun menambahkan, tidak perlu ada dikotomi parpol dan non parpol dalam memilih menteri dari kalangan muda. Pertimbangan utamanya tetap harus kualitas. Meskipun, harus diakui memilih sosok menteri tidak bisa hanya mepertimbangkan kualitas semata. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...