Australia Ingin Deportasi Anak Autisme asal Indonesia, Ini Reaksi Warganet

FAJAR.CO.ID, CANBERRA-- Dukungan buat Dimas Triwibowo dan keluarga agar tak dideportasi dari Australia terus mengalir. Sampai pukul 22.00 WIB tadi malam, sudah ada 32.212 penanda tangan petisi online di change.org.

Petisi itu dibuat Cameron Gordon, mantan penyelia doktoral Yuli Rindyawati, ibunda Dimas, di University of Canberra (UC), Australia, sebulan lalu. Dimas, 14 tahun, merupakan anak bungsu di antara tiga bersaudara pasangan Yuli dan Heri Prayitno.

Yuli memang terus berharap dirinya dan keluarga yang telah sepuluh tahun tinggal di Canberra bisa mendapatkan status permanent resident di Australia. Yuli yang kala meninggalkan Indonesia berstatus dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, tak bisa menyerah. Sebab, kembali ke Indonesia bukanlah pilihan yang ingin dijalani, terutama bagi Dimas yang tengah menjalani terapi.

Dilansir The Canberra Times, Yuli mengajukan permohonan visa permanen melalui jalur graduate skilled sejak empat tahun lalu. Salah satu syarat pengajuannya adalah tes kesehatan.

Yuli, Heri, dan dua anaknya yang bernama Adela Ramadhina, 21, serta Ferdy Dwiantoro, 17, lolos tes. Tapi, tidak demikian anak terakhirnya, Dimas. “Dimas, anak saya yang paling kecil, dinyatakan tidak lolos karena kondisi autis,” ujar Yuli seperti dikutip SBS.

Petugas menyatakan bahwa kondisi autis tersebut bakal berdampak pada biaya yang signifikan terhadap komunitas Australia. Terutama di bidang kesehatan dan pelayanan publik.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah


Comment

Loading...