Australia Ingin Deportasi Anak Autisme asal Indonesia, Ini Reaksi Warganet

  • Bagikan
Dalam keterangan di akun Facebook pribadinya, Yuli masih menulis diri sebagai dosen FIA UB. Upaya Jawa Pos mengontak Yuli melalui Facebook tak berbalas sampai berita ini selesai ditulis. Begitu pula kontak melalui layanan pesan pendek (SMS) di nomor telepon. Sepuluh tahun lalu, ketika menjalani tugas belajar untuk menempuh pendidikan doktoral bidang filosofi ekonomi di UC, Yuli membawa serta suami dan anak-anaknya. Saat itu usia Dimas masih 3 tahun dan Yuli serta suami tidak tahu putra bungsunya itu menderita autis. Kelainan Dimas baru terdeteksi saat dia berusia 5 tahun. Tepatnya ketika Yuli mendaftarkannya untuk sekolah. Dimas akhirnya masuk ke Malkara (Special) School, sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sejak bersekolah, kemajuan Dimas meningkat drastis. Dia awalnya sulit bicara. Tapi, kini dia mampu memahami dan bicara dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Dimas bisa naik sepeda angin, naik bus sendiri, dan tidak pernah tantrum. Dia menjalani terapi dua pekan sekali. Kondisinya membaik dari severe ke moderate. Yuli bekerja sebagai tutor paro waktu di UC dan manajer di toko Asian Provision. Sang suami selama sepuluh tahun ini menjadi petugas kebersihan di QT Hotel. Ferdy bersekolah di Lake Tuggeranong College dan Adela berkuliah jurusan IT di UC. Perempuan 21 tahun itu juga bekerja paro waktu. Keluarga Yuli juga selalu membayar pajak kepada pemerintah Australia. “Kami merasa sangat dekat dengan komunitas di sini. Bukan hanya komunitas orang Indonesia (di Australia, Red),” ujar Yuli kepada Canberra Times.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan