Australia Ingin Deportasi Anak Autisme asal Indonesia, Ini Reaksi Warganet

  • Bagikan
Yuli mengungkapkan bahwa selama ini pengobatan Dimas tak pernah menggunakan uang negara. Mereka memakai asuransi pribadi. Penasaran, Yuli mencari tahu berapa besaran nominal yang akan diberikan negara jika Dimas menjadi permanent resident. “Oleh Centrelink dihitung estimasi biayanya dan ternyata anak saya itu hanya mendapatkan bantuan kurang lebih 50 dolar per minggu,” ujarnya. Itu setara dengan kurang lebih Rp 490 ribu.
Menteri Milenial, Ini Masukan Megawati Soekarnoputri Resep Ayu Ting Ting Jaga Kualitas Suara Kakak Wagub Minta Tertutup, Panitia Angket Menolak
Besaran uang tersebut dinilai tidak signifikan dan seharusnya tak menghambat Dimas untuk menjadi permanent resident di Australia. Yuli yakin putranya tidak akan menjadi beban negara. Dimas bahkan sudah mendapatkan tawaran untuk kerja jika lulus dari kelas X pada 2021. Dimas kini berusia 14 tahun dan duduk di kelas IX Woden School. Ketika dikonfirmasi, Humas FIA UB Aulia Luqman Aziz menyatakan bahwa Yuli meninggalkan Indonesia untuk tugas belajar sejak 2009. Sementara teman-teman Yuli yang juga ikut tugas belajar sudah kembali. “Update dari wakil dekan bidang administrasi umum FIA, SK pemberhentian dari Kemenristekdikti sudah sejak tahun 2016,” ungkap dia. Artinya, Yuli bukan lagi dosen di FIA UB. Jadi, kata Luqman, ibu tiga anak itu sudah tidak memiliki sangkut paut dengan UB. Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) belum mengambil sikap atas masalah imigrasi keluarga Dimas. Plt Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah menerangkan, pihaknya menghormati ketentuan imigrasi suatu negara. Begitu juga warga negara asing yang harus menaati ketentuan imigrasi Indonesia. Maka, lanjut Faizasyah, tidak etis rasanya jika ikut terlibat lebih dalam. (jp)
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan