Borong Kalukua Jadi Salah Satu Percontohan Budidaya Kakap Putih

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAROS — Dusun Borong Kalukua Desa Borimasunggu Kecamatan Maros Baru dijadikan salah satu percontohan pengembangan kawasan budidaya kakap putih di tambak.

Sebanyak 150 ribu benih ikan kakap putih yang disalurkan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis, 11 Juli 2019 di Dusun Borong Kalukua Desa Borimasunggu kepada kelompok pembudidaya ikan dengan target sasaran untuk kawasan kakap putih sekitar 300 hektare.

Penyerahan bibit ini dihadiri langsung oleh Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar, Nono Hartanto, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Sulkaf S Latief, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Maros, Sam Sophyan, dan Kepala Balai Perikanan Ambon.

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, mengatakan, pihaknya melakukan penebaran benih kakap putih dan juga memberikan bantuan ke Maros berupa benih kakap putih, nila salin, bandeng, dan udang windu.

“Diharapkan benih-benih ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dan meningkatkan produksi perikanan budidaya,” katanya. Diakuinya, sebelum di Maros, pihaknya juga telah membuka budidaya ikan kakap di Pinrang.

Slamet mengatakan, alasan diberikannya bantuan kakap putih dan nila salin karena pihaknya ingin membentuk kawasan perikanan budidaya yang berbasis komoditas. Sebab, Maros sudah ditetapkan sebagai kota minapolitan dan ini juga basisnya pada komunitas.

Lebih lanjut, kata dia, pihaknya sengaja memilih kakap putih karena bisa untuk memutus rantai penyakit udang yang selama ini menjadi momok pembudidaya.

“Jadi kakap putih ini bisa memutus rantai penyakit udang yang selama ini menjadi momok pembudidaya. Nah itu akan kita hilangkan dengan kakap putih maupun dengan nila salin. Sebab kakap putih ini ikan yang rakus, karena memakan apa saja yang ada ditambak. Seperti keong dan cacing yang merupakan potensi karier penyakit virus yang membahayakan udang. Sehingga diharapkan tidak ada lagi karier yang menyebabkan potensi penyakit ke udang,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, kakap putih bisa menjadi komoditas andalan. “Karena kakap putih ini punya tekstur daging putih dan sangat diminati oleh dunia dan juga lokal Indonesia. Sehingga marketnya pun berpotensi diekspor,” sebutnya.

Menuritnya budidaya ikan kakap putih ini juga merupakan salah satu cara untuk membangkitkan recovery tambak yang mangkrak.

“Kita memberikan solusi supaya tambak ini termanfaatkan kembali karena selama ini produksi udang menurun disebabkan penyakit. Sehingga solusinya ya dengan budidaya kakap putih dan nila salin agar tetap ada terus kegiatan,” jelasnya.

Jumlah benih yang disalurkan, kata dia, sekitar 800 hingga 900 ribu ekor yang terdiri atas ikan nila salin 62 ribu ekor, 500 ribu udang windu, 200 ribu benih ikan bandeng dan 150 ribu ekor kakap putih. Selain itu, juga dilakukan penyaluran bantuan benih nila salin di Desa Majannang Kecamatan Maros Baru. (rin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...