Obituarium Ali Baba: Buru Gelar Gelar Profesor yang Tak Kesampaian

Kamis, 11 Juli 2019 - 10:08 WIB
Mantan pemain PSM Makassar Sumirlan (depan kiri), Najib Latandang dan Syamsuddin Umar membawa keranda Alm Ali Baba untuk di kuburkan dari kediaman Kompleks Permata Mutiara Jl Dg Tata, Rabu 10 Juli. TAWAKKAL/FAJAR

Jasad boleh mati, namun prestasi akan dikenang abadi. Itulah prinsip Ali Baba semasa hidup.

Laporan: ABADI TAMRIN

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Mimpi menempuh pendidikan setinggi langit menjadi impian yang dipendam Ali Baba semasa hidup. Motivasinya, ia ingin tercatat sebagai pesepakbola pertama yang menyandang status guru besar.

Namun, Tuhan berkata lain. Pertahanan pria yang membawa PSM juara 1999/2000 itu jebol oleh penyakit yang menyerangnya dari dalam 2018 silam. Rencana studi lagi harus dibatasi oleh waktu untuk lebih banyak beristirahat.

“Sebelumnya bapak pernah minta difotokan pakai baju toga,” kenang istri, Ramliah.

Di bawah mendung yang menggelayut, sejak pagi, rumah duka di Perumahan Permata Mutiara, didatangi kerabat, mantan pemain PSM, dan sahabat di kampus, Rabu, 10 Juli. Para mahasiswa Ali Baba di STIEM Bongaya satu per satu datang memberikan penghormatan terakhir kepada sang guru sekaligus idola.

Ramliah tak hentinya menangis. Demikian pula ketiga putranya, Nur Abdillah, Muhammad Yusril, dan Ahmad Fiqri.
Kesedihan tak kuasa ditahan melihat sosok pemimpin yang selalu mengimaminya dan membimbingnya menempuh pendidikan setinggi mungkin.

Ya, Ali telah mengingatkan kepada ketiga putranya agar menyelesaikan pendidikannya hingga minimal tingkat sarjana. Kalau bisa mencapai gelar profesor seperti yang diimpikannya.

“Iye, bapak selalu ingatkan belajar baik-baik,” kata putra bungsu, Ahmad Fiqri yang juga kini kuliah dengan jurusan yang sama di tempat ayahnya mengajar.

Canda tawa dari sang ayah hanya bisa dikenang kini dari sanubari terdalam di rumah berlantai dua ini. Sembari memanjatkan doa keselamatan kepada sang ayah sekaligus panutan di akhirat.

Tangisan pun kembali pecah tatkala jenazah Ali Baba ditandu keluar dari rumah. Ramliah tak kuasa menahan kesedihan. Perempuan bergelar sarjana ekonomi itu harus dirangkul dua kerabatnya.

Baca Juga: Ali Baba Legenda PSM, Salat Zuhur Jadi Pengharapan Terakhir

Para mantan pemain PSM, mulai dari Syamsuddin Umar, Abdi Tunggal, Sumirlan, Ansar Abdullah, Yusrifar Jafar, Basri, Assegaf Razak, Danny Irawan, Taqim, hingga pentolan kelompok suporter Hasanuddin, Karaeng Iskandar bergantian ikut mengangkat jenazah ke masjid dekat kediamannya untuk disalati.

Kalimat tahlil dikumandangkan di rumah Allah bercat hijau itu hingga melanjutkan perjalanan ke peristirahatan terakhir sang legenda di pekuburan Islam, Pa’bangiang, Gowa.

Ketiga putra Ali Baba, Nur Abdillah, Muhammad Yusril, dan Ahmad Fiqri menjadi yang terakhir mengantar ayahanda di liang lahat. Dengan tangis yang tak bisa dibendung satu per satu tali kafan dilepas yang dipimpin putra sulung Nur Abdillah.
Dari atas, sang ibu, Ramliah terus mengingatkan kepada ketiga putranya untuk tidak meneteskan air mata.

“Janganki menangis, Nak. Ayah tidak boleh liatki sedih,” pesan Ramliah berkali-kali kepada putranya sembari ia juga mengusap mata dengan lengannya.

Beberapa mantan pemain PSM hingga kelompok suporter satu per satu bergantian memanjatkan doa sembari memegang nisan sang legenda. Berharap kebaikan dan amalan lelaki yang dikenal sabar dan pendiam ini diterima Allah SWT.

Mantan kiper PSM, Ansar Abdullah yang menjadi sahabat terdekat Ali sekaligus teman seperjuangan menembus ketatnya skuat PSM 1984 kala itu mengakui sosok Ali adalah pria pekerja keras dan tak lupa pendidikan.

“Saya selalu ledek dia itu kalau sudah latihan dia kan mau pergi kuliah. Saya selalu bilang untuk apa kamu kuliah na adami jadi presiden,” kenang Ansar.

Baca Juga: Final Piala Indonesia, PSM Punya Motivasi Berlipat Hadapi Persija

Ya, pria kelahiran Sidrap, 27 November 1968 ini mulai giat menekuni pendidikannya di UNM 1999 silam hingga menyabet gelar doktor di Universitas Muslim Indonesia (UMI) 2013 lalu.

Meski gelar profesor Ali tak kesampaian, gelar Doktor pun telah menjadikannya satu-satunya jebolan PSM yang membelokkan kiprahnya ke perguruan tinggi. (*/rif-zuk)

DATA DIRI:

Nama : DR Ali Baba, SE, MSi Bin Laima
Kelahiran : Sidrap, 27 November 1968

Karier
1982 : PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar)
1984 : Makassar Utama/PSM
1992: Pusam Samarinda
1994 : PSM (Liga Dunhill)
1999 : Mulai Pendidikan S1
2003 : Pensiun dari PSM/Jadi Dosen STIE YPUP Makassar
2004 : Mulai Pendidikan S2
2008 : Asisten Pelatih PSM
2010 : Mulai Pendidikan S3
2013 : Menyabet Gelar Doktor
2016 : Dosen Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Makassar (STIEM) Bongaya