Obituarium Ali Baba: Buru Gelar Gelar Profesor yang Tak Kesampaian

Jasad boleh mati, namun prestasi akan dikenang abadi. Itulah prinsip Ali Baba semasa hidup.

Laporan: ABADI TAMRIN

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Mimpi menempuh pendidikan setinggi langit menjadi impian yang dipendam Ali Baba semasa hidup. Motivasinya, ia ingin tercatat sebagai pesepakbola pertama yang menyandang status guru besar.

Namun, Tuhan berkata lain. Pertahanan pria yang membawa PSM juara 1999/2000 itu jebol oleh penyakit yang menyerangnya dari dalam 2018 silam. Rencana studi lagi harus dibatasi oleh waktu untuk lebih banyak beristirahat.

"Sebelumnya bapak pernah minta difotokan pakai baju toga," kenang istri, Ramliah.

Di bawah mendung yang menggelayut, sejak pagi, rumah duka di Perumahan Permata Mutiara, didatangi kerabat, mantan pemain PSM, dan sahabat di kampus, Rabu, 10 Juli. Para mahasiswa Ali Baba di STIEM Bongaya satu per satu datang memberikan penghormatan terakhir kepada sang guru sekaligus idola.

Ramliah tak hentinya menangis. Demikian pula ketiga putranya, Nur Abdillah, Muhammad Yusril, dan Ahmad Fiqri. Kesedihan tak kuasa ditahan melihat sosok pemimpin yang selalu mengimaminya dan membimbingnya menempuh pendidikan setinggi mungkin.

Ya, Ali telah mengingatkan kepada ketiga putranya agar menyelesaikan pendidikannya hingga minimal tingkat sarjana. Kalau bisa mencapai gelar profesor seperti yang diimpikannya.

"Iye, bapak selalu ingatkan belajar baik-baik," kata putra bungsu, Ahmad Fiqri yang juga kini kuliah dengan jurusan yang sama di tempat ayahnya mengajar.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi


Comment

Loading...