Digagas Kemenkominfo, Unicorn Umrah Ancam Matikan Travel

Jumat, 12 Juli 2019 - 10:52 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kemenkominfo bersama Pemerintah Arab Saudi kerja sama membuat startup umrah atau umrah digital. Kerja sama ini meresahkan asosiasi travel umrah.

Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi memperkuat kerja sama di bidang ekonomi digital melalui inisiasi pengembangan Umrah Digital Enterprise. Kemenkominfo yang mewakili pemerintah menggaet dua unicorn nasional, yakni Traveloka dan Tokopedia untuk terlibat dalam kolaborasi ini.

Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sulampua, Azhar Gazali mengatakan kerja sama ini dinilainya akan mengganggu bisnis biro travel umrah. Kerja sama ini dinilainya akan merusak ekosistem umrah yang sudah berjalan. Apalagi para pengusaha jasa tak dilibatkan.

“Ini akan mematikan bisnis travel. Harusnya pemerintah mendukung asosiasi tetapi kemitraan bisa mematikan bisnis kami. Di Sulsel itu tiap bulan ada 3.000-4.000 jemaah umrah,” keluhnya.

Kata Azhar, digitalisasi layanan sebenarnya bukan hal baru dan sudah dikembangkan Amphuri. Marketplace layanan umrah sudah diluncurkan lewat program Amphuri Information System Syariah atau Aisyah. Selain platform B to B, ini juga bisa diakses end costumer untuk mencari harga bersaing.

“Jadi sebenarnya sudah ada. Sudah kami luncurkan di Jeddah pada Juni lalu. Masyarakat atau pembeli sisa memilih paket umrah yang diinginkan,” terangnya.

Kerja sama yang diinisiasi Kemenkominfo ini juga dinilai janggal. Menurutnya, urusan umrah itu mestinya ada pada Kementerian Agama (Kemenag) dan unsur terkait lainnya. Juga menyerahkan urusan ibadah seperti umrah kepada entitas yang tidak berpengalaman sangat berisiko.

“Kita tidak tahu apa motivasi pak Menteri Rudiantara. Kalau urusan digitalisasi, masyarakat sudah melek teknologi. Kemudian kalau untuk menutup celah travel abal-abal, saya kira ini bukan solusinya,” terangnya.

Sementara itu, Menkominfo, Rudiantara memastikan pengembangan startup aplikasi umrah digital yang akan digarap bersama oleh pemerintah Indonesia dan Arab Saudi tidak akan mengganggu bisnis biro travel yang selama ini sudah berjalan.

“Situasinya sama saja dengan biro travel yang dulu ada, sekarang juga masih ada ketika bisnisnya bergeser ke ranah online. Hanya saja sekarang menjadi merchant-nya Traveloka dan platform lainnya. Jadi tergantung pasarnya, ada pasar yang retail, ada yang non-retail. Tidak perlu khawatir,” ujar Rudiantara.

Senada, Co-founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison menegaskan kehadiran Tokopedia untuk memberikan solusi yang end to end dengan mengumpulkan permasalahan terlebih dahulu. Hal ini sejalan dengan visi misi Tokopedia yang ingin melakukan pemerataan pengusaha digital.

“Tokopedia sejak awal selalu ber-partner dengan berbagai pihak karena kita ingin maju bersama. Kita ingin membangun jembatan, bukan dinding penghalang,” ungkap Leontinus.

Dalam implementasinya, Tokopedia akan bekerja bersama-sama dengan Traveloka melalui jalur Government to Government (G to G) maupun Business to Business (B to B) dengan pebisnis online di Arab Saudi. Pengembangan umrah digital fokus pada tiga aspek yang bisa diefisiensikan dengan mengimplementasikan teknologi dan membangun partnership dengan pihak lain.

“Kita akan mengembangkan pengalaman mulai dari pre-departure atau persiapan di Indonesia, kemudian saat mereka tiba di sini (Arab Saudi), dan setelah selesai umrah,” tambah Leontinus.

Umrah digital diharapkan bisa menjadi pilihan alternatif biro travel yang memberikan jaminan keamaan dan kenyamanan. Pengelolaannya pun transparan dan bisa dipantau secara online.

Menkominfo Rudiantara mengaku selama ini tantangan pengelolaan umrah akibat adanya biro travel yang tidak bertanggung jawab dan melakukan penipuan. Inilah salah satu hal yang ingin diantisipasi pemerintah melalui pengembangan Kolaborasi Digital Indonesia-Arab Saudi.(fik)