Aira, Gadis Kecil yang Amankan 4.264 Puntung Rokok

Senin, 15 Juli 2019 - 09:01 WIB

FAJAR.CO.ID–Panggil saja Aira. Berambut panjang, usia 9 tahun. Kalau pergi berbelanja, dia menolak kantong plastik. Sikap yang dia dan orang tuanya coba bangun sejak dini.

Andi Nisfatul Aira itu memang menyimpan banyak cinta untuk lingkungan. Dia mungkin salah satu pembuat kompos paling muda di kota ini. Dia membantu ibunya mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan kembali.

Makassar International Writers Festival (MIWF) ke-9 tahun 2019 di Fort Rotterdam, beberapa waktu lalu, memilih Aira sebagai Ambasador Zero Waste. Seseorang yang mengupayakan hajatan selama tiga hari ini tak mengirim sampah apapun ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang.

Aira total mengamankan 4.264 puntung rokok, lalu dibuat cigbrick selama berlangsungnya MIWF.

Sedangkan sampah plastik seberat 14.960 gram dibikinnya ecobrick. Sisanya, limbah makanan dan lainnya seberat 95 kilogram menjadi kompos.

“Kita yang melakukan festival ini tidak ikut membuang, dan menghasilkan yang namanya sampah,” ungkap Lily Yulianti Farid, Direktur MIWF.

Efektifkah Susu Atasi Dehidrasi Saat Ibadah Haji

Tunangan Deddy Corbuzier: Carilah Kebahagiaan dengan Tak Merampas Hak Orang Lain

Begini Suasana Video Detik-detik Ilham Arief Sirajuddin Tinggalkan Lapas

Kerja Aira sampai ke ruang Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas).

Melalui Hasanuddin Center for Tobacco Control and Non Communicable Disease Prevention (Hasanuddin Contact), lembaga yang mendorong dan membantu Pemkot Makassar mengefektifkan implementasi Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) memberikan award pada Aira.

“Senang sekali. Kami sekeluarga akan hadir,” ujar Indrawati Abdi, ibu Aira.

Gadis mungil itu akan menjadi salah satu yang berbahagia di Aula Prof Amiruddin Fakultas Kedokteran Unhas, Sabtu, 13 Juli 2019.

Indrawati yang juga pegiat lingkungan hidup di Kota Makassar menyebut, plastik dan sampah yang terbuang begitu saja tidak hanya merusak kelestarian lingkungan, namun dapat juga mengganggu kesehatan masyarakat.

Pencemarannya dapat melalui udara, air, tanah, maupun organisme lain yang dapat menimbulkan penyakit.

Menurutnya, ada solusi jangka pendek dan jangka panjang. Karena secara individu, lanjut Indrawati semua pihak bisa berkontribusi mengurangi polusi udara dari ancaman bahaya plastik.

“Namun pemerintah jauh lebih bisa menjadikannya lebih terstruktur, sistematis, dan masif melalui kewenangannya,” katanya.

Dia senang karena Aira semakin bersemangat membantunya dalam kampanye semacam itu. (rls)