Aktif Melawan “Hipnotis” Hidup Sedentari

Selasa, 16 Juli 2019 07:16

Muhammad RanusharDokter Spesialis Penyakit Dalam RSUDTakalar/RSU Maryam Citra Medika,Kabupaten Takalar.

Dibandingkan dengan orang tua atau kakek-nenek kita, kita menghabiskan lebih banyak waktu di lingkungan dengan aktivitas fisik yang terbatas. Begitu juga dengan pekerjaan membutuhkan duduk yang lama seperti di tempat kerja, rumah, mobil maupun di tempat terbuka (public space).Tempat kerja, sekolah, rumah, dan ruang publik telah dan terus direkayasa sehingga meminimalkan pergerakan dan aktivitas otot. Gaya hidup seperti ini dikenal dengan istilah Sedentari (sedentary life style).Berasal dari bahasa latin ‘sedere’ yang artinya duduk. Gaya hidup sering duduk atau berbaring sambil berkegiatan seperti membaca, bersosialisasi, menonton televisi, bermain video game, atau menggunakan komputer hampir sepanjang hari.Perubahan-perubahan ini memiliki efek ganda pada perilaku manusi. Orang cenderung bergerak lebih sedikit dan lebih banyak duduk.Dari perspektif evolusi, manusia dirancang untuk bergerak dan terlibat dalam segala macam pekerjaan manual sepanjang hari. Hal ini penting untuk dipertahankan agar kelangsungan hidup kita sebagai spesies dapat kembali ke fungsi penciptaannya.Dalam beberapa dekade terakhir, populasi manusia dewasa yang menjadi semakin tidak aktif, yaitu sebanyak 70 persen atau lebih dari waktu beraktivitas mereka dihabiskan untuk duduk.Seiring dengan perubahan ini, penelitian terhadap perilaku menetap (duduk lama) sebagai faktor risiko baru untuk penyakit kardio-metabolik; seperti penyakit diabetes, jantung, hipertensi, kegemukan dan penyebab penyakit lainnya yang berhubungan dengan kurangnya olahraga yang bila berkomplikasi dapat menyebabkan kematian.

Bagikan berita ini:
3
8
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar