Aktif Melawan “Hipnotis” Hidup Sedentari

Selasa, 16 Juli 2019 07:16

Wawasan baru mengenai risiko kesehatan dari perilaku tidak bergerak, memperluas perspektif yang diterima tentang aktivitas fisik dan kesehatan dengan menjadikan bergerak sebagai kebutuhan, mengurangi duduk lama dan meningkatkan aktivitas ringan (misalnya, berdiri dan berjalan), di samping terlibat dalam aktivitas sedang hingga yang berat.Pentingnya konseling olahraga dalam pengaturan perawatan primer, sumber daya seperti tenaga konselor yang ahli memberikan saran praktis untuk memasukkan konseling perilaku dalam pengobatan medis. Faktor lain penyebab kian suburnya gaya hidup sedentari, yaitu transisi gaya hidup.Dahulu, segala aktivitas memerlukan tenaga fisik manusia. Kini semuanya dipermudah dengan kecanggihan teknologi. Kecanggihan teknologi yang di satu sisi manfaatnya tidak dinafikan, seperti efisiensi tenaga dan waktu, namun tanpa disadari di sisi lain juga menyediakan jebakan yang siapa pun bisa terperosok, jika tidak bijak menyikapi.Data dari Riset Kesehatan Dasar 2018 (Riskesdas 2018) Kemeterian Kesehatan RI, menunjukkan hasil bahwa sebanyak 33.5 persen penduduk Indonesia yang berusia di atas 10 tahun dikategorikan sebagai aktivitas fisik kurang. Terjadi peningkatan sebanyak 7,4 persen dari hasil Riskesdas 2013 yaitu 26.1 persen.Hal ini paralel dengan angka kejadian penyakit kardio-metabolik seperti peningkatan angka kejadian penyakit diabetes mellitus pada usia diatas 15 tahun terjadi peningkatan dari 6.9 persen (2013) menjadi 10.9 persen (2018). Begitu juga pada penyakit hipertensi dibandingkan tahun 2013, terjadi peningkatan sebanyak 8.3 persen. Pada golongan obesitas (berat badan lebih/kegemukan), terjadi peningkatan sebanyak 4.4 persen dari tahun 2013.

Bagikan berita ini:
4
6
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar