Sulsel Lumbung Beras, Tetapi Beras Penyebab Utama Kemiskinan

Selasa, 16 Juli 2019 - 10:07 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR— Tingkat kemiskinan dan ketimpangan di Sulsel sebagai sentra pangan nasional memang turun. Tetapi sayang, beras menjadi penyumbang kemiskinan.

Sesuai data BPS Sulsel, jumlah penduduk miskin Sulsel pada Maret 2019 mencapai 767.800 jiwa. Ini turun sekitar 24.830 jiwa dibanding Maret 2018. Gini ratio atau tingkat ketimpangan pada Maret 2019 hanya 0,389 turun dibanding Maret 2018 yang mencapai 0,397.

Pengamat ekonomi, Anas Anwar Makkatutu mengatakan secara statistik penurunan kemiskinan ini menurutnya menggembirakan. Program-program pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan ada efeknya. Namun bila didalami, ada semacam anomali. “Beras dan rokok kretek filter menjadi komoditas utama penyumbang kemiskinan. Ini yang mengherankan, semacam anomali karena Sulsel selalu diagungkan sebagai daerah surplus beras,” ungkapnya.

Sesuai data BPS, kemiskinan di perkotaan disebabkan terutama komoditas beras 19,52 persen. Di pedesaan justru lebih besar lagi. Sumbangan beras ke pemicu kemiskinan di pedesaan mencapai 23,80 persen. Kata Anas, artinya petani yang memproduksi beras pun harus membeli beras dengan mahal.

“Artinya petani tidak menikmati hasil produksinya. Kalau di kota beli beras wajar, tetapi kalau di pedesaan juga beras penyumbang kemiskinan ya rasanya percuma kita disebut sentra pangan, daerah surplus beras,” tegasnya

Kata dia, kondisi ini muncul karena beras petani lebih banyak dikirim keluar Sulsel. Imbasnya harga beras di pasar-pasar Sulsel ikut terpengaruh. Rantai distribusi beras terlalu panjang sementara yang menikmati harga tinggi hanya para pedagang.

“Daya beli petani lemah. Indeks yang diterima lebih rendah dari indeks pengeluaran untuk barang jasa yang dikonsumsi kalau kita bicara nilai tukar petani. Artinya petani di Sulsel belum sejahtera. Ini tugas Gubernur baru kedepan,” tegasnya. (fik)