Di Hadapan Publik Tercinta, Praveen/Melati Malah Beri Kejutan Buruk

Rabu, 17 Juli 2019 - 13:30 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Baru hari pertama Blibli Indonesia Open bergulir, badminton lovers Indonesia langsung mendapat kejutan. Kejutan buruk, tepatnya.

Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti tersingkir. Unggulan ketujuh itu kalah oleh pasangan Jerman yang levelnya jauh di bawah mereka, Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich. Pramel—sebutan mereka—kalah straight set 20-22, 14-21 kemarin.

Itu mengulang capaian mereka tahun lalu. Yang juga kandas di babak pertama. Tapi karena prestasi mereka tahun ini sudah jauh lebih baik, semua tentu berharap mereka mampu tampil selayaknya pasangan peringkat 6 dunia. Bahkan pelatih Richard Mainaky menyiapkan mereka jadi juara. Dengan drill khusus untuk menghadapi pasangan Tiongkok.

Evaluasi besar-besaran langsung dilakukan oleh asisten pelatih ganda campuran, Nova Widianto. Mereka bertiga terlibat pembicaraan intens selama hampir 15 menit di depan ruang atlet. Dari ”interogasi” itu, Nova menyimpulkan bahwa mereka nervous berat. Terutama Melati, yang paling banyak membuat error sepanjang pertandingan.

”Kali ini paling parah tegangnya, terutama Meli (panggilan Melati). Kelihatan banget. Harusnya nggak gitu. Kalau diandalkan, mereka harus tanggung jawab. Bukan malah jadi beban,” omel Nova.

Dia menyebut, keduanya belum punya mental juara. Apalagi, pasangan ini punya kebiasaan meremehkan latihan-latihan kecil yang gampang tapi penting untuk mendongkrak performa.

”Komunikasi juga kurang. Kadang mereka belum bisa mengatasi rasa kesal,” kata Nova. ”Karakter juaranya belum ada. Seharusnya pas ketinggalan harus bisa mengatasi, pas partner jelek dan tegang tahu bagaimana cara mengkovernya,” ulas peraih perak Olimpiade Beijing 2008 itu.

Praveen dan Melati tampak menyesali kekalahan ini. Praveen mengatakan, sampai akhir game kedua, mereka tidak bisa keluar dari tekanan. Itu bukan karena Lamsfuss/Herttrich lebih bagus. Hanya lebih nekat. ”Kitanya malah terlalu berhati-hati, sehingga mereka bisa main lebih lepas. Yang harusnya bisa game (menang), karena terlalu berhati-hati, jadinya nggak game,” ucapnya.

Alhasil, di sektor ganda campuran, Indonesia tinggal mengandalkan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja. Hari ini mereka menghadapi rekan sesama pelatnas Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari. ”Dari segi komunikasi mereka paling bagus. Secara latihan pun juga paling bagus di antara yang lain. Saya lihat ada peluang,” kata Nova.

Sementara itu, kemarin unggulan ketiga Yuta Watanabe/Arisa Higashino Jepang mundur dari turnamen. Higashino mengalami cedera pertandingan melawan Chris Adcock/Gabrielle Adcock baru berjalan tujuh menit. ”Kakinya sakit, nggak bisa dipaksakan. Cedera sudah lama, tapi sebelumnya sudah merasa enakan. Sudah diperiksa dokter tapi nggak apa-apa,” kata Watanabe.

Higashino mengalami cedera pada babak perempat final Badminton Asia Championship April lalu. Ketika itu dia salah posisi jatuh saat berusaha mengembalikan serangan dari lawan. Dia sempat rehat sebulan untuk memulihkan kondisi. Dia sempat tampil di Piala Sudirman 2019, tapi tidak maksimal.

Sementara itu Fitriani kembali gagal memberikan kejutan. Pada babak pertama Indonesia Open 2019 hari ini (17/7), Fitriani dikalahkan Chen Yufei, unggulan kedua asal Tiongkok dalam dua set 7-21 dan 19-21.

Fitri bermain sangat buruk pada game pertama. Chen terus mengontrol permainan dan memaksa pemain Indonesia ini kehilangan banyak angka.

Pada game kedua, Fitriani mulai menemukan ritme permainan dan memberi perlawanan. Kejar-mengejar angka terjadi. Bahkan, angka sempat sama pada kedudukan 19-19. Namun, Chen yang lebih berpengalaman, akhirnya kembali memegang kendali, mencetak dua angka beruntun, dan mengamankan tiket babak kedua.

“Di game pertama saya kurang lepas mainnya jadi defense-nya juga kurang rapat. Yufei mengontrol permainan saya dari awal dengan baik. Di game kedua saya sedikit mengubah pola bermain dan mempercepat pergerakan. Lawan sempat mati-mati sendiri juga dan buang-buang bola juga. Tetapi di poin-poin terakhir saya kecolongan,” jelas Fitriani dalam siaran pers yang diterima Jawa Pos dari PP PBSI.

Ditunggu Intanon, Jorji: Dia Lawan yang Saya Takuti

Kata Politikus Golkar, Tak Benar Parpol Rebutan Kursi Menteri

Bandara Komodo Bersiap Jadi Bandara Internasional

“Waktu poin 19-19 tadi saya buru-buru dan lawan juga mempercepat permainan depannya, kasih bola tipis, waktu saya angkat bolanya menyangkut,” tambahnya.

Fitriani menambahkan bahwa masih banyak hal yang perlu dia perbaiki, terutama dari segi serangan. Selain itu, dia mesti memperbanyak permainan no lob.

“Sekarang bukan hanya mengandalkan smash saja untuk menyerang, tapi juga dari dropshot dan netting. Saya masih sering error saat melakukan itu,” ungkapnya.

Sektor tunggal putri sementara telah mengirim satu wakil ke babak kedua lewat Gregoria Mariska Tunjung. Masih ada satu kesempatan menambah wakil, Lyanny Alessandra Mainaky akan bertanding melawan Zhang Beiwen dari Amerika Serikat.

Sementara itu, Ruselli Hartawan terhenti di babak pertama dari unggulan ketujuh asal Thailand Ratchanok Intanon. (jp)