Golongan Radikal Kehilangan Ruang Usai Pertemuan Jokowi-Prabowo

Rabu, 17 Juli 2019 - 14:13 WIB
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kereta MRT Jakarta. (Istimewa)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Iklim politik Indonesia mulai lebih adem usai pertemuan antara Jokowi dan Prabowo. Keduanya berjabat erat dan saling berpelukan dan akan saling membantu.

Menanggapi itu, Pengamat politik dari Populi Center, Rafif Pamenang Imawan menilai pertemuan dua tokoh bangsa itu berimpliklasi langsung pada kelompok anti-demokrasi atau bisa disebut golongan radikal.

“Pertemuan itu membuat kelompok anti demokrasi mulai bingung dan kehilangan ruang untuk menggalang dukungan. Sebab masyarakat perlahan sudah mulai bersatu,” ujar Rafif kepada wartawan, Rabu (17/7).

Rafif juga menyarankan, agar diakan penguatan fungsi hubungan partai politik dengan organisasi masyarakat (ormas) untuk mencegah eksistensi kelompok radikal di Indoensia. Menurutnya, ormas merupakan simpul dari agregasi politik dalam iklim demokrasi.

“Dengan cara ini organisasi anti-demokrasi dapat kehilangan ruang gerak,” katanya.

Hebat! Wanita Berhijab Jadi Juara Gulat Malaysia

Permintaan Meningkat, Stok Diler Mobil Menipis

Ditunggu Intanon, Jorji: Dia Lawan yang Saya Takuti

Sebelumnya, Jokowi dan Prabowo mengadakan pertemuan di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7). Keduanya bersalaman dan menaiki MRT bersama menuju Senayan.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyampaikan selamat pada Jokowi yang telah terpilih sebagai Presiden RI 2019-2024. Bahan dua tokoh bangsa itu juga sepakat usai Pilpres 2019 kemarin tidak ada lagi istilah cebong dan kampret.

Keduanya kemudian makan bersama di salah satu restoran kawasan Senayan. Sejumlah tokoh juga terlihat ikut dalam pertemuan itu, seperti Kepala BIN Budi Gunawan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menhub Budi Karya Sumadi, Waketum Gerindra Edhy Prabowo, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, hingga Ketua TKN Erick Thohir. (jp)