Jadi Andalan UMKM, Aset Industri BPR-BPRS Tumbuh 7,52 Persen

Rabu, 17 Juli 2019 - 13:00 WIB

FAJAR.CO.ID — Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) menyediakan produk keuangan serupa dengan bank konvensional lain. Ternyata BPR memiliki penetrasi yang lebih baik dibandingkan dengan perbankan lain khususnya untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Seiring dengan persaingan dunia perbankan yang kian ketat, BPR – BPRS sepertinya tidak akan luntur serta masih menjadi salah satu perbankan yang diminati masyarakat.

“Karakteristik BPR – BPRS yang memiliki kemudahan dalam penyaluran kredit dan keunikan dalam menghimpun dana masyarakat dibandingkan dengan bank konvensional lain menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga, BPR–BPRS masih diminati,” kata Ketua Umum DPP Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarind), Joko Suyanto, via rilis, Rabu, 17 Juli 2019.

Industri BPR – BPRS yang terus mengalami pertumbuhan tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa jangkauan pelayanan BPR-BPRS semakin luas dan keberadaan BPR-BPRS semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Walau pun, faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan industri BPR-BPRS telahdan akan terus mengalami perubahan yang sangat cepat.

Seperti perkembangan teknologi informasi, pertumbuhan lembaga-lembaga keuangan mikro baru, perubahan tingkat pendapatan masyarakat, perkembangan perekonomian dan tuntutan pelayanan perbankan yang lebih baik dari masyarakat.

BPR – BPRS dihadapkan dengan persaingan yang lebih kompetitif khususnya dalam melayani UMKM. Hal tersebut terlihat dari hasil kinerja pada April tahun 2019, Aset Industri BPR tumbuh sebesar
7,52% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp137 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang
karena tumbuhnya penyaluran kredit yang dilakukan oleh industri BPR yaitu mencapai Rp103 triliun
atau tumbuh sebesar 10,84% dibandingkan posisi setahun sebelumnya.

Sebagai lembaga intermediasi, BPR juga mampu menghimpun dana masyarakat dengan baik. Hal ini terlihat dari jumlah dana masyarakat yang dihimpun dari sisi deposito maupun tabungan masing-masing tumbuh sebesar 7,39% dan 8,39% menjadi Rp64 triliun untuk deposito dan Rp29 triliun untuk tabungan.

Selain itu, hal yang menggembirakan jumlah nasabah yang dilayani mencapai 17,9 juta rekening, nasabah tersebut didominasi oleh penabung sebanyak 13,5 juta rekening dan rata–rata jumlah tabungannya sebesar Rp2 juta. Sedangkan nasabah debitur sebanyak 3,8 juta rekening dan rata–rata pinjamannya adalah Rp27 juta.

Hal ini tentunya mencerminkan industri BPR – BPRS memang hadir untuk melayani masyarakat kecil dan pelaku UMKM di seluruh wilayah Indonesia. Walaupun demikian, tingkat pengenalan masyarakat terhadap BPR – BPRS masih dirasakan sangat kurang dan terkesan di masyarakat BPR-BPRS hanya untuk meminjam uang.

Untuk itu, perlu ada sebuah momentum untuk meningkatkan awareness dan pemahaman masyarakat terhadap Perbankan khususnya Industri BPR–BPRS. “Sehingga penting dan strategis menyelenggarakan hari BPR-BPRS. Hari BPR-BPRS sendiri jatuh pada 20 Mei lalu,” ungkapnya. (rls)