3 Kali Operasi Besar, Kepala Safa dan Marwa Akhirnya Pisah

Kamis, 18 Juli 2019 - 09:33 WIB

FAJAR.CO.ID, LONDON – Safa dan Marwa Ulla lahir dengan kondisi kembar siam craniopagus alias dempet bagian kepala. Mereka harus berjuang melewati tiga operasi besar sebelum akhirnya terpisah.

Safa tersenyum riang di gendongan ibunya, Zainab Bibi. Beberapa kali Zainab menggelitik sang putri. Raut bahagia terpancar jelas dari wajahnya.

Selama dua tahun ini dia tidak bisa menggendong Safa dan kembarannya, Marwa Ullah. “Tuhan telah menjawab doa kami,” ujar Zainab. Kini dia bisa menggendong putrinya satu per satu seperti anak normal pada umumnya.

Zainab menceritakan bahwa dirinya sudah melahirkan tujuh kali sebelumnya. Semuanya lewat persalinan normal. Tapi saat hamil Safa dan Marwa, dokter menyatakan bahwa dirinya harus dioperasi Caesar karena komplikasi dan bayinya dempet.

Kondisi itu sempat membuatnya terpukul. Sebab dua bulan sebelum jadwal Caesar, sang suami meninggal karena serangan jantung.

Kapal Tenggelam di Pangkep, 7 Penumpang Belum Ditemukan

Sistem Zonasi, Tak Satupun Lulusan SMP Bisa Masuk SMA Negeri

Model Cantik Heiley Beiber Damprat Vokalis Band Tool

Dilansir BBC, Safa dan Marwa lahir dengan selamat pada 7 Januari 2017 di Hayatabad Hospital, Pakistan. Mereka baru dibawa pulang sebulan kemudian. Salah satu rumah sakit militer menawarkan untuk memisahkan Safa dan Marwa, tapi hanya satu yang bisa diselamatkan. Zainab tidak mau. Dia ingin kedua putrinya hidup.

Nasib baik menghampiri. Zainab terhubung dengan ahli bedah saraf pediatrik Owase Jeelani. Dokter kelahiran Kashmir, Pakistan, itu bekerja di rumah sakit kenamaan di London, Inggris, Great Ormond Street Hospital (GOSH). Jeelani janji membantu. Dia ingin Safa dan Marwa dioperasi sebelum usia setahun untuk meminimalkan risiko.

Sayangnya, visa untuk ke Inggris baru selesai Agustus 2018 ketika usia Safa dan Marwa sudah 19 bulan. Kendala tak cuma sampai di situ. Dana yang dikumpulkan untuk operasi belum cukup.

Dengan tekad bulat, Jeelani meminta Safa dan Marwa untuk ke London lebih dulu. Jeelani lantas bertemu temannya yang seorang pengacara dan menceritakan kondisi si kembar.

Si pengacara lantas menelepon seseorang. Dia adalah Murtaza Lakhani, seorang pengusaha berdarah Pakistan. Tanpa pikir panjang, Lakhani setuju menutup semua kekurangan biaya.

Hal yang paling mendebarkan dimulai, proses operasi. Tim dokter harus berlatih dulu dengan menggunakan replika 3 dimensi anatomi kepala Safa dan Marwa.

Senin, 15 Oktober 2018, pukul 08.00 operasi pertama dimulai. Ada 20 dokter dan petugas medis dari berbagai bidang di ruang operasi. Tugas mereka tidak mudah. Sebab, tengkorak Safa dan Marwa menyatu membentuk tabung. Tidak ada sekat di antara otak mereka. Pembuluh darah si kembar juga menyatu.

Nigeria Juara 3, Ighalo Calon Kuat Top Skor Piala Afrika

Eks Miss Moscow Baru Melahirkan, Mantan Raja Malaysia Malah Menceraikannya

Makan Malam Mewah Dibiayai Negara, Menteri Prancis Mundur

Operasi pertama sempat mencekam karena aliran darah Safa tidak lancar dan akhirnya membanjiri Marwa. Jantung Marwa pun kejang. Dia tak stabil.

Operasi ke-2 dilakukan sebulan kemudian untuk membagi pembuluh darah si kembar. Operasi tersebut berlangsung selama 20 jam. Tim dokter juga memasang tissue expander untuk menumbuhkan jaringan kulit kepala si kembar.

Operasi ketiga alias pemisahan berlangsung 11 Februari. Untuk kali pertama sejak mereka dilahirkan, Safa dan Marwa akhirnya bisa melihat satu sama lain.

Total keseluruhan operasi membutuhkan sekitar 50 jam dan melibatkan lebih dari 100 orang. Termasuk para pembuat replika anatomi Safa dan Marwa dan mereka yang merawatnya.

Safa dan Marwa keluar dari rumah sakit pada 1 Juli. Tapi, mereka tidak langsung pulang ke Pakistan. Selama enam bulan ke depan, mereka masih harus menjalani fisioterapi untuk proses rehabilitasi. (jpnn)