Drama Sistem Zonasi

Kamis, 18 Juli 2019 - 08:26 WIB

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR–Sistem zonasi menimbulkan drama bagi siswa dan orang tua. Belajar keras demi masuk sekolah unggulan, terpatahkan karena kebijakan bernama zonasi.

Permendikbud nomor 51/2018 tentang penerimaan peserta didik baru (PPDB), memberlakukan kebijakan zonasi. Yakni, mengharuskan peserta didik menempuh pendidikan di sekolah yang terdekat dengan domisili mereka. Sistem zonasi ini bertujuan menghilangkan status favorit terhadap sejumlah sekolah negeri yang selalu terjadi setiap tahun.

Siswa SMK Telkom Makassar, Vier Leonard Gilles Rissing mengatakan sistem zonasi belum pas jika diterapkan di Indonesia. Belum lagi, prosesnya bikin ribet.

“Bukannya sombong, saya termasuk salah satu siswa berprestasi. Tidak adil namanya kalau sudah giat belajar untuk masuk sekolah idaman, eh harus gagal karena sistem zonasi,” cuap Leonard.

Menurutnya, masalah jarak tak seharusnya membatasi siswa untuk memilih mau bersekolah di mana. Hal yang sama juga dirasakan Putri Nabila. Siswi SMPN 1 Sungguminasa ini tak bisa membayangkan sedihnya mereka yang tinggal cukup jauh dari sekolah favorit.

Belum lagi, jika pelajar tersebut berada di daerah yang tidak masuk sistem zonasi, tentu kesulitan untuk melanjutkan pendidikan. Ujung-ujungnya, mereka harus masuk sekolah swasta.

“Idealnya, sistem zonasi dilakukan seiring dengan pemerataan fasilitas dan sumber daya manusia (SDM) di masing-masing sekolah. Kalau bisa sih, lebih banyak lagi jumlah sekolah bagus yang dibangun biar pendidikan bisa merata,” ungkap Putri.

Andi Cinta Talitha yang baru saja lulus di SMAN 21 Makassar ini membeberkan kelebihan dan kekurangan sistem zonasi. Kelebihannya, misalnya jarak rumah ke sekolah semakin dekat. Gak ada alasan telat masuk sekolah, karena macet. Kekurangannya, siswa dari daerah dan punya nilai UN tinggi, sulit masuk sekolah favorit.

“Belajar sih bisa di mana saja. Namun faktor teman dan lingkungan juga sangat mempengaruhi. Takutnya semua itu tidak mendukung,” tandas alumni SMPN 12 Makassar ini. (*)

 

Loading...