Pansel Capim KPK: Kalau Cuma 10 yang Lulus, Apa Boleh Buat

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Sebanyak 192 calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengikuti uji kompetensi. Panitia seleksi (Pansel) Capim KPK berharap bisa memeroleh 50 orang yang lulus seleksi pada tahap dua kali ini. Setelah itu baru masuk pada tahap profile assesment profile.

“Kita harap antara 50 atau lebih. Tapi kalau memang cuma 10 yang lulus apa boleh buat. Jadi tergantung ya, kita kan punya kriteria-kriteria. Jadi kita harap banyak yang bisa lolos. Jadi lebih mudah,” kata Ketua Pansel Capim KPK, Yenti Ganarsih di Pusdiklat Setneg Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (18/7).

Pada tahap seleksi kedua ini, pansel akan menggali kompetensi capim berdasarkan dua jenis ujian. Pertama soal check point multiple choice. Memilih, memberikan pertanyaan-pertanyaan kemudian peserta mencari satu, memakai laptop. Kedua, soal makalah terkait pengetahuan tindak pidana korupsi.

Yenti menjelaskan, dua tes tersebut dimaksudkan untuk menggali pemahaman capim terkait masalah korupsi di Indonesia dan kemampuan mengatasinya.

“Semua itu terkait dengan akar masalah korupsi. Jadi poinya adalah, soal bagaimana kita bisa memberantas korupsi di Indonesia dan segala permasalahannya,” ucap Yenti.

Yenti memaparkan poin yang akan digali dalam ujian ini. Antara lain, terkait pemberantasan dan pencegahan korupsi, manajemen organisasi internal, dan hubungan kelembagaan antara KPK dan lembaga lain atau etika berlembaga.

“Kita ingin ini tetap lembaga formal resmi, jadi meskipun lembaga independen tapi ada etika yang mana dalam ketatanegaraan tetap harus diperhatikan. Kita ingin orang-orang seperti itu yang bisa baca dua ujian ini,” tegas Yenti.

BNN Sita Mobil Mewah Bandar Narkoba Asal Sidrap, Ada Mini Cooper

Calon Menteri, Megawati Belum Gunakan Hak Prerogatifnya

Kapal Pesiar Jadi Hotel Terapung di Olimpiade Jepang, Tarifnya Capai Rp93 Juta

Kendati demikian, dari 192 peserta seleksi calon pimpinan KPK, terdapat lima orang yang dinyatakan gugur. Mereka diantaranya, satu orang menyatakan mundur, tiga orang tak hadir tanpa keterangan, dan satu orang telat.

“Tidak hadir empat (orang), tiga tanpa keterangan, yang satu dari kepolisian mengundurkan diri, yakni Pak Wiyagus. Terus satu terlambat satu jam,” ucap Yenti.

Para peserta yang telat tak diperbolehkan masuk ke dalam ruang ujian. Sebab, hal ini menyangkut integritas. Apalagi sehari sebelumnya, pansel sudah meminta peserta meninjau lokasi ujian. “Jadi toleransinya cuma 30 menit,” ungkap Yenti.

Lebih jauh, pakar hukum Universitas Trisakti menyebut, para peserta yang tak hadir akan dianggap gugur. Begitu pun yang nilainya dianggap rendah dalam ujian.

“Yang hadir saja begitu nilainya rendah sekali maka langsung gugur,” tukas Yenti. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah

Comment

Loading...