Sirkulasi Kepemimpinan DPD Harus Mengedepankan Visi Lembaga

Kamis, 18 Juli 2019 - 19:05 WIB
IST

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Bursa sirkulasi kepemimpinan di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menghangat. Sejumlah nama mulai mencuat.

Selain anggota DPD petahana, beberapa figur baru digadang-gadang memimpin lembaga legislatif tersebut.

Mencermati hal itu, Tamsil Linrung, Anggota DPD terpilih dari Sulawesi Selatan mengatakan agar koleganya tidak terjebak pada opsi personal.

“Dibutuhkan narasi kelembagaan untuk memperkuat DPD, agar dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Bicara siapa dapat apa, tidaklah esensial. Kepentingan lembaga, rakyat di atas kepentingan personal ,” katanya di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, (18/7/2019).

Menurut politisi senior di Senayan ini, DPD harus punya agenda yang jelas bagaimana mengemban amanah yang dititipkan oleh rakyat. Karena di lingkup legislatif, para senator yang terpilih tersebut memperoleh legitimasi sangat kuat. Satu anggota DPD bahkan ada yang mendapat dukungan jutaan suara.

“Rakyat tentu menunggu kiprah kita. Terutama dalam mengartikualsikan kepentingan daerah”, lanjut Tamsil. Untuk menunjukkan kiprah, DPD mesti punya arah yang jelas mau ke mana.

Selain arah, visi dan misi lembaga, Tamsil juga berharap anggota DPD konsen untuk membenahi kodisi internal. Seperti adanya faksi-faksi yang sudah jadi rahasia umum. Sebab situasi tersebut, mempengaruhi kepercayaan dan dukungan publik kepada DPD. Salah satu pekerjaan rumah DPD saat ini adalah pengembalikan wibawa lembaga dengan membangun soliditas.

“DPD butuh solidarity maker. Dan kita semua, rekan-rekan anggota DPD, mesti berperan menjadi bagian dari solidarity maker tersebut,” lanjut Tamsil.

Tamsil berharap, ke depan DPD tidak boleh dikelola seperti memimpin perusahaan, apalagi dengan gaya premanisme. Kalau tidak suka, main pecat atau sanksi. DPD merupakan institusi negara. Milik bersama, milik rakyat. Sehingga semua pikiran, ide gagasan, harus diakomodir dan dikomunikasikan.

“NKRI eksis, tegak menghadapi berbagai problem dan dinamikanya, juga karena buah pikiran pendiri bangsa. Itu harus kita warisi. Lagi pula, pikiran-pikiran itu, adalah kristalisasi problem dan kebutuhan dari bawah. Ilustrasi kondisi kebatinan bangsa. Merefleksikan denyut kehidupan di setiap daerah yang diwakili oleh para anggota yang amat beragam,” pungkas mantan pimpinan Badan Anggaran DPR RI ini. (rdi)