Draft Sudah Final, Indonesia-Rusia Segera Miliki Kerja Sama MLA dan Ekstradisi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MOSKOW – Indonesia segera terikat perjanjian kerja sama Bantuan Hukum Timbal Balik dalam Masalah Hukum atau Mutual Legal Assitance in Criminal Matters (MLA), ekstradisi dan best practice Pemindahan Narapidana Antar Negara atau Transfer of Sentenced Person (TSP) dengan Federasi Rusia.

Kepastian percepatan penandatanganan kerja sama dalam masalah hukum dengan Rusia ini, setelah Delegasi Indonesia bertemu dengan perwakilan Pemerintah Federasi Rusia untuk membahas dan mendiskusikan persiapan final penandatanganan MLA, ekstadisi, dan best practice TSP pada 16 sampai 18 Juli 2019.

Ketua Delegasi Indonesia yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) AHU, Cahyo Rahadian Muzhar, mengatakan, perundingan perjanjian MLA Indonesia – Rusia sudah dilakukan sejak Desember 2017 silam. Sementara, untuk perundingan perjanjian ekstradisi sudah dimulai pada September 2018. Pemerintah Indonesia sendiri menunjuk dirinya sebaga ketua juru runding sedangkan dari pihak Rusia yakni Vladimir Chryssanthov.

“Kedua ketua juru runding sudah telah membubuhkan paraf pada draft perjanjian dan telah menyepakati bahwa kedua belah negara akan melaksanakan prosedur sesuai dengan ketentuan hukum nasionalnya untuk mempersiapkan penandatanganan perjanjian termasuk penerjemahan dan pengesahan,” kata Cahyo.

Dia menjelaskan pada pertemuan terakhir pembahasan draft final perjanjian MLA dan ekstradisi sudah dilakukan pada 4 sampai 5 Maret 2019 di Moskow. Secara umum, Rusia dapat menerima seluruh usulan Indonesia namun prosedur internal Rusia masih berjalan dan memerlukan waktu sekitar 6 sampai 7 minggu.

“Indonesia sendiri sudah menerima nota diplomatik pada 13 Maret 2019 lalu yang menyampaikan Kementerian Kehakiman Federasi Rusia mengusulkan penandatanganan perjanjian MLA dan ekstradisi dilakukan saat kunjungan resmi Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin ke Indonesia pada pertengahan kedua tahun 2019,” ujarnya.

Cahyo mengungkapkan penandatanganan MLA, ekstadisi dan best practice TSP merupakan peningkatan kerja sama antara Indonesia dan Rusia dalam segala bidang. Diketahui bersama hubungan bilateral Indonesia dengan Rusia sudah terjalin dengan baik ini terlihat dari banyaknya draft perjanjian yang telah didiskusikan khususnya dalam acara Working Group on Legal Basis Indonesia – Russia pada tanggal 12 Juli 2019 di mana Kementerian Luar Negeri Indonesia menjadi wakil Pemerintah Indonesia.

“Indonesia dan Rusia merupakan negara anggota G20, kerangka kerjasama hukum dalam bentuk perjanjian MLA dan Ekstradisi juga patut dilandaskan pada Prinsip Tingkat Tinggi G20 tentang Bantuan Hukum Timbal Balik (G20 High-Level Principles on Mutual Legal Assistance) dan Prinsip Tingkat Tinggi G20 tentang Kerja Sama terkait Pencarian Orang untuk Korupsi dan Pengembalian Aset (G20 High Level Principles on Cooperation on Persons Sought for Corruption and Asset Recovery),” kata dia.

Dalam mempererat hubungan Indonesia – Rusia dalam bidang hukum, sambung Cahyo, pada kunjungan ke Rusia kali ini selain memfinalisasi kerjasama MLA dan ekstradisi juga akan dibahas pembicaraan perjanjian pemindahan narapidana antar negara atau Transfer of Sentenced Person (TSP). Pemindahan narapidana sendiri merupakan salah satu bentuk kerja sama internasional di bidang hukum yang direkomendasikan untuk dibentuk di setiap negara.

“Betapa pentingnya perjanjian TSP ini. Dengan adanya TSP, sebuah negara dapat mengajukan permohonan agar warga negaranya yang dipidana di negara lain dapat dipindahkan ke negara asalnya,” jelasnya.

Selain perjanjian kerja sama MLA, ekstradisi dan TSP, Kemenkumham Republik Indonesia dan Kementerian Kehakiman Federasi Rusia juga segera menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dalam bidang hukum. Tujuan dari MoU ini supaya bisa menyediakan kerangka kerja hukum untuk kerja sama antara Indonesia dengan Rusia mengenai isu-isu yang berkaitan dengan pengembangan sistem hukum, lembaga dan perundang-undangan dengan cara yang saling menguntungkan bagi kedua pihak.

“Beberapa poin MoU yakni pertukaran ahli hukum dari kedua negara, pertukaran informasi dalam perundang-undangan, penegakan hukum, literatur hukum dan lain sebagainya yang bisa menguntungkan bagi Indonesia dan Rusia,” ungkap Cahyo.

Lebih jauh, Cahyo menambahkan hubungan bilateral Indonesia dan Rusia sudah terjalin dengan baik bahkan kedua belah pihak terus menerus berupaya untuk meningkatkan kerja sama dalam segala bidang termasuk dalam perjanjian MLA, ekstradisi dan TSP nanti.

“Perjanjian MLA, ekstradisi dan TSP antara Indonesia dan Rusia diharapkan makin mempererat hubungan kedua negara. Di masa depan kerja sama dibidang lain antara Indonesia dan Rusia bisa bertambah,” ujarnya.

Sebelumnya Indonesia sudah menandatangi kerjasama MLA dengan beberapa negara. Ada pun, perjanjian kerja sama MLA yang sudah ditandatangani Indonesia adalah dengan Swiss, Australia, Hong Kong, RRC, Korea Selatan, India, Uni Emirat Arab, Iran, dan negara yang tergabung dalam ASEAN. (rls)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...