Giliran AS Hancurkan Pesawat Mata-mata Iran

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, IRAN– Bulan lalu, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menembak jatuh pesawat pengintai AS di atas perairan Provinsi Hormozgan, Iran. Teheran mengklaim bahwa pesawat mata-mata Global Hawk RQ-4 AS telah melanggar wilayah udaranya, sementara Washington mengklaim pesawat itu beroperasi di perairan internasional.

Kepala Juru Bicara Pentagon, Jonathan Hoffman mengatakan pada hari Kamis, sebuah pesawat tak berawak Iran mengancam kapal perang AS di Selat Hormuz, sebelum dihancurkan pasukan AS dalam aksi pertahanan.

“Sekitar pukul 10 pagi waktu setempat, kapal amfibi USS Boxer berada di perairan internasional melakukan transit inbound yang direncanakan ke Selat Hormuz. Sistem udara tak berawak sayap tetap (UAS) mendekati Boxer dan ditutup dalam jarak yang mengancam. Kapal mengambil tindakan defensif terhadap UAS untuk memastikan keamanan kapal dan krunya,” kata Hoffman seperti dilansir Iranian, Jumat, 19 Juli.

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa USS Boxer telah menghancurkan sebuah pesawat tak berawak Iran yang telah mencapai 1.000 meter dari kapal saat sedang transit di Selat Hormuz.

Berbicara di Upacara Presentasi Bendera, Trump mengatakan bahwa insiden di Selat Hormuz melibatkan kapal serbu amfibi USS Boxer Navy.”

Operasi Miras, Satpol PP Musnahkan Dua Ember Ballo

Memanas, Pengawal Revolusi Iran Tahan Kapal Tangker Asing

Ngotot ke Madrid, Legenda MU Bryan Robson Nasihati Pogba

“Boxer mengambil tindakan defensif terhadap sebuah pesawat tak berawak Iran, yang telah mendekati jarak yang sangat dekat, sekitar 1.000 yard, mengabaikan beberapa seruan untuk mundur dan mengancam keselamatan kapal dan awak kapal. Drone itu segera dihancurkan,” tandas Trump.

Presiden AS menggambarkan insiden itu sebagai tindakan provokatif dan bermusuhan terbaru dari Iran terhadap kapal yang beroperasi di perairan internasional.

Belum ada konfirmasi mengenai insiden dari Teheran. Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat menyusul penarikan AS secara sepihak dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) 2015 pada Mei 2018, dan penerapan kembali sanksi terhadap Iran. Pada tahun 2019, Washington mulai membangun kehadiran militernya di wilayah tersebut, dengan menyebut “ancaman Iran”, dan dugaan niat Iran untuk mendapatkan senjata nuklir.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...