Kades Mesum Perkosa Anak Sekdesnya di Sungai

Jumat, 19 Juli 2019 - 12:31 WIB

FAJAR.CO.ID, KALTENG– Oknum Kepala Desa Narui, Puncak Mandala Putra, 49, menjalani sidang di Pengadilan Negeri Muara Teweh, Kalimantan Tengah, Kamis (18/7). Aparatur desa yang bermukim di Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya ini menghadapi dakwaan perbuatan asusila terhadap anak sekdes-nya.

Pada persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Liberti Purba menghadirkan saksi berinisial TO, 38, yang merupakan ayah kandung korban. Dalam keterangannya, TO menjelaskan kejadian pilu menimpa anaknya, Bunga (nama samaran), yang masih berusia 11 tahun.

“Peristiwa bejat yang dilakukan kades terjadi 1 Mei 2019 lalu,” tutur TO saat ditemui wartawan di Pengadilan Negeri Muara Teweh.

Saat kejadian, TO yang merupakan Sekdes Narui sedang berada di Puruk Cahu. Di rumahnya ada istri dan anaknya yang duduk di kelas enam sekolah dasar (SD).

Awalnya, istri TO mengajak Bunga ke ladang. Mereka berangkat bertiga dengan Puncak Mandala Putra. Oknum kades ini memanggil Bunga dengan sebutan cucu. Sampai di ladang istri, TO berpisah dengan anaknya. Bunga lantas dibawa Puncak ke sungai untuk menemani menjala ikan.

Kerja Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman 10 Bulan Pimpin Sulsel

Program Hapus Tato Sukses Digelar di Sidrap dan Wajo

DPP PDIP: Minta Kader Wajib Dukung Penuh Pemerintah Sulsel

Dalam kesempatan itulah, terdakwa melampiaskan hasratnya. Karena takut, Bunga tidak langsung melaporkan ke ibunya. Namun esok harinya, Bunga menangis karena kesakitan, lalu menceritakan kejadian kepada ibunya. “Anak saya sempat diberi uang Rp50 ribu oleh terdakwa. Uang tersebut sudah dikembalikan,” ujar TO.

Istri TO lantas menyampaikan kejadian ke suaminya. Kemudian pada 7 Mei 2019, TO membawa anaknya melapor ke Polsek Laung Tuhup. Setelah divisum ternyata benar ada perbuatan tidak senonoh menimpa Bunga. “Tanggal 10 Mei 2019, terdakwa ditangkap polisi,” ulasnya.

Orang tua Bunga berharap terdakwa dihukum seberat-beratnya karena ‘membunuh’ masa depan anaknya. Dalam keterangannya, terdakwa mengaku mendapat petunjuk mistis sehingga tega melakukan perbuatan asusila terhadap murid SD.

JPU mendakwa terdakwa dengan Pasal 81 ayat 1 dan 2 serta Pasal 82 ayat 1 UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. (jp)

Loading...