Mahasiswa UMI Teliti Penggunaan Pupuk Kedelai Edamame, Begini Hasilnya

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan pupuk organik dan anorganik masih minim. Hal itu menyebabkan tingkat produksi dan kesuburan tanah ikut terpengaruh.

Atas dasar itu, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI), Muh Rijal, meneliti takaran pupuk organik yang dapat mensubtitusi pupuk anorganik pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Dalam penelitiannya, dia memilih kedelai jenis edamame sebagai sampel.

Penelitian itu dia lakukan di Desa Sanrobone, Kabupaten Takalar, selama kurang lebih empat bulan. Termasuk proses uji coba penanaman kedelai yang dilakukan pada 8 April dan dipanen 10 Juni lalu.

Dari hasil penelitiannya, Rijal melihat penggunaan pupuk anorganik secara cepat bisa merusak kesuburan tanah. Hasil tanaman kedelai pun tidak begitu melimpah akibat kebanyakan menggunakan pupuk berbahan kimia tersebut.

Padahal, kata dia, kedelai edamame mengandung nilai gizi yang cukup tinggi. Setiap 100 gram biji mengandung 582 kkal, 11,4 gram protein, 4,4 gram karbohidrat, 6,6 gram lemak, 100 miligram vitamin A atau karotin, dan masih banyak lainnya.

Menurut Rijal, peluang pasar kedelai edamame sesungguhnya cukup besar, baik untuk ekspor maupun konsumsi lokal. Bahkan, kedelai jenis ini berpotensi mengurangi volume impor bahan baku pakan ternak maupun industri makanan di tanah air.

“Produktivitas kedelai edamame bisa mencapai 3,5 ton/ha lebih tinggi dibandingkan kedelai biasa yang hanya mampu menghasilkan 1,1-1,5 ton/ha,” ucapnya, kemarin.

Rijal pun menawarkan penggunaan pupuk bokashi sebagai subtitusi pupuk anorganik pada tanaman kedelai edamame. Juga penggunaan tanaman kirinyuh dan jaranan sebagai bahan dasar pupuk bokashi.

“Masyarakat dapat menggunakan pupuk organik untuk memperbaiki kondisi sifat fisik tanah, biologis tanah, kimia tanah, dan tanaman, sehingga kesehatannya juga bisa lebih baik. Intinya jangan terlalu bergantung pada pupuk anorganik,” ujar dia.

Dia berharap, hasil penelitian ini bisa diaplikasikan oleh masyarakat, khususnya di Desa Sanrobone. Sebab, kata Rijal, kontur dan tekstur tanah di daerah ini cocok untuk membudidayakan kedelai edamame tersebut.

“Saya selaku mahasiswa Pertanian UMI siap membimbing atau membantu dalam budidaya untuk bersama-sama mengembangkan pertanian Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan,” pungkasnya. (ism)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...