Reaksi Kader Muda Kakbah Dengar Buwas Calon Ketum PPP

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Baru masuk bursa calon ketua umum, Budi Waseso alias Buwas sudah mendapat penolakan dari kader muda PPP. Mantan kepala Bareskrim Mabes Polri itu tidak memenuhi syarat memimpin partai kakbah.

“Kami tidak setuju Buwas jadi calon Ketua Umum PPP. Enggak rasional,” kata kader muda kakbah, Usni Hasanudin kepada wartawan, Kamis (18/7).

Usni mengatakan, AD/ART PPP mengatur bahwa calon ketua umum harus pernah menjadi pengurus minimal satu periode sebelumnya. Karena itu, dia menganggap wacana pencalonan Buwas tersebut tidak rasional.

“Secara aturan AD/ART tidak dapat, kemudian dari basis juga tidak dapat,” ujarnya.

Dia menjelaskan sosok yang ideal menjadi calon Ketua Umum PPP tidak harus dari luar. Karena, jika dari luar maka akan terjadi gesekan di internal.

“Kalau dari luar atau eksternal partai, ini kan lucu. Untuk apa selama ini berteriak bahwa PPP adalah partai kader, tetapi tidak memiliki kepercayaan diri mendorong kader sendiri,” jelas dia.

Usni menegaskan PPP memiliki basis sosiologis yang jelas, sehingga sangat tidak mungkin mengambil dari luar untuk calon ketua umum. Apalagi, internal PPP juga tidak kekurangan kader.

Trippier Pemain Inggris Pertama Atletico Sejak 1924

Harga Cabai sudah Tembus Rp70.000/Kg

Adkasi Dorong Ekonom IPB Calon Menteri

Sebab, Usni khawatir apabila sosok dari luar yang dijadikan ketua umum maka partai ini akan musnah. Karena, sekarang saja sudah hampir bubar partai yang dipimpin oleh Suharso Monoarfa. Padahal, masih banyak kader partai yang mumpuni.

“Masih banyak yang mumpuni seperti Zainut Tauhid yang kini sebagai waketum MUI, Ahmad Muqowam yang duduk sebagai Anggota DPD RI, Ahmad Farial serta banyak lagi yang lain. Tapi kenapa harus mengambil dari luar?” katanya.

Ia menyarankan kepada seluruh pengurus PPP agar Muktamar sebagai momentum untuk ajang persatuan, sehingga tidak ada perpecahan lagi atau dualisme di tubuh PPP. Maka, calon ketua umum juga harus diperhatikan untuk mencapai tujuan persatuan tersebut demi kejayaan kembali partai.

“Muktamar kali ini harus dijadikan momentum persatuan. Terima atau tidak, PPP itu masih terbelah. Satukan dulu buat Muktamar rekonsiliasi. Kalau kita masih berpikir sah tidak sah, maka sampai kapan pun sulit PPP akan besar,” tandasnya. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...