Honor Kakek

  • Bagikan
Salah satu yang lari ke Hong Kong itu keluarga Jaya Suprana. Seperti ia tulis di online kemarin. Saya juga sering ketemu mereka di Hong Kong. Sekali waktu ikut mereka. Merayakan 17 Agustus. Ratusan orang. Saling bercakap dalam bahasa Sunda. Atau bahasa Jawa. Saya juga pernah datang ke kampung-kampung penampungan mereka. Di Liuzho. Saat itu Hong Kong masih di bawah pemerintahan Inggris. Statusnya sewa. Selama 100 tahun. Bukan jajahan. Sewa itu habis di tahun 1997. Inggris pun mengembalikannya kepada Tiongkok. Dengan syarat yang disetujui bersama. Selama 50 tahun ke depan Tiongkok tidak mengubah sistem hukum di Hong Kong. Juga tidak mengubah sistem demokrasinya. Apakah di tahun 2047 kelak eksistensi Hong Kong hilang? Tentu terserah Tiongkok. Namun di Tiongkok sendiri berkembang pemikiran untuk tidak mengubahnya. Bahkan justru Tiongkok yang akan berubah. Think-thank di Tiongkok sudah agak lama membicarakan konsep masa depan negara itu. Mereka cenderung tidak akan meniru sistem Amerika. Mereka lebih memilih model Jerman. Belakangan muncul juga pemikiran baru: model Skandinavia (Norwegia, Swedia, Finlandia, Denmark). Saya sering terlibat pembicaraan tidak formal. Dengan orang-orang komunis Tiongkok. Saya pun berani mengatakan pada mereka: "Sebenarnya justru di Skandinavia-lah cita-cita komunisme tercapai. Tanpa label komunis." Tentu juga tanpa label agama. Di sanalah pemerataan ekonomi terbaik di dunia. Di sanalah 'sama rasa sama rata' relatif tercapai. Pada level yang disebut makmur. Bukan sama rata sama rasa -- sama-sama miskinnya.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan