Libatkan Anak dalam Perencanaan Pembangunan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR  — Forum Anak Nasional (FAN) sudah berlangsung di Balroom Four Point By Sheraton, Minggu, 21 Juli. Forum yang sudah dihelat sejak 2010 merupakan ajang perwujudan prinsip partisipasi anak. Setiap suara, pendapat dan keinginan anak-anak Indonesia akan dituangkan dalam bentuk Suara Anak Indonesia yang diserukan saat puncak peringatan HAN.

FAN diisi dengan berbagai kegiatan. Seperti; observasi dan pemetaan 13 isu yang sudah ditetapkan. Ke-13 isu tersebut adalah kesiapsiagaan bencana, pencegahan dampak negatif teknologi, Informasi dan Komunikasi, usia pernikahan anak, pengasuhan alternative.

Juga, ada isu perilaku hidup bersih dan sehat, isu stunting, kesehatan mental, revolusi mental, terorisme, tindak pidana perdagangan orang, perlindungan khusus bagi anak imigran, kewirausahaan online dan keberanian berkata jujur. Semuanya tergambar dari lima klaster dalam Konvensi Hak Anak.

Seluruh isi akan dibahas narasumber. Di antaranya dari Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Universitas Andalas, Asian Foundation dan Kementerian Kesehatan.

Uniknya, dalam forum tersebut, anak-anak juga memberikan penampilan bakat seninya di atas panggung. Seluruh perwakilan Forum Anak Provinsi hadir membawa ciri khas daerah mereka sekaligus aspirasi mereka.

Seperti yang dilakukan delegasi dari Provinsi Bali, Ni Made Devina Nanda. Mereka sudah menyiapkan aspirasinya terkait apa saja yang perlu dilakukan ke depan agar anak-anak di Indonesia utamanya di Bali lebih menonjol.

Menurutnya anak harus turut berperan dalam penentuan kebijakan terkait masalah anak, ide-ide anak muda juga perlu diperhatikan demi kemajuan bangsa. “Jadi kami juga turut ikut dalam musrenbang tingkat desa, kota kecamatan provinsi maupun nasional,” ungkapnya.

Delegasi dari Yogyakarta, Afgan memanfaatkan
kegiatan ini sebagai ajang perkenalan daerahnya. Ia punya cita-cita besar untuk berperan dalam pembangunan di Yogyakarta.

“Kami selalu bangga dengan budaya. Kami ingin menjadi panutan untuk anak-anak Indonesia bagaimana kami mencintai budaya sendiri dengan menggunakan batik khas dari Sidoluhur,” sebut lelaki berusia 17 tahun ini. (ind/abg)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah

Comment

Loading...