Modus Jadi Guru, Dari Balik Lapas Napi Pedofil Lecehkan Puluhan Anak

Senin, 22 Juli 2019 - 16:52 WIB

FAJAR.CO.ID,JAKARTA–Subdit 1 Direktorat Tindak pidana Siber Bareskrim Polri, menangkap tersangka TR, 25, akibat terlibat kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Pelaku ditangkap pada Selasa (9/7). Mirisnya dia berstatus sebagai narapidana dalam kasus yang sama dengan vonis 7,5 tahun. Hingga ditangkap lagi, dia baru menjalani vonis 2 tahun.

Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Asep Safrudin mengatakan, 2 tahun menjalani hukuman di hotel prodeo tak membuat TR jera. Dari dalam Lapas dia kembali beraksi melakukan eksploitasi seksual dan kekerasan seksual terhadap anak di dunia maya.

“Dengan cara menyamar sebagai guru yang berpura-pura memberikan nilai terhadap anak murid yang berhasil membuat foto dan video adegan pornografi,” ujar Asep dalam konferensi pers di gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (22/7).

Dalam menjalankan aksinya TR mencari informasi di Instagram tentang calon korban dengan kata kunci kata SD, SMP dan SMA, tujuannya untuk menemukan akun guru dan anak terutama yang tidak di privat.

Selanjutnya pelaku membuat akun palsu dengan mengaku sebagai ibu guru korban untuk mengelabui para korban. Hingga korban percaya. “Kemudian membujuk korban agar mengirimkan foto dan video telanjang dengan dalih nilai terancam jelek jika menolak,” imbuh Asep.

Setelah itu, melalui direct messages atau chat whatsapp pelaku memberikan instruksi dan menerima konten pornografi dari korban. Hasilnya pelaku mendapat foto atau video korban tanpa busana. Bahkan ada korbannya yang memasukkan jari ke alat vital hingga mengalami perdarahan.

TR semula mengelak telah melakukan kejahatan terhadap sejumlah anak. Namun bukti yang dimiliki penyidik dari hasil pemeriksaan digital forensic berupa ribuan foto dan video para korban yang tersimpan di handphone dan beberapa emailnya, membuat tersangka tidak bisa membantah. “Tersangka mengaku kepada Penyidik Subdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber bahwa korbannya hampir 50 orang anak,” papar Asep.

Dari foto dan video yang diamankan penyidik, wajah serta postur korban diperkirakan rata-rata masih duduk di bangku kelas 5 SD sampai dengan kelas 3 SMA dengan rentang usia 11 – 17 tahun. Seluruh korban belum diketahui identitas dan alamatnya. Untuk itu penyidik tengah berupaya melakukan identifikasi guna menemukan keberadaan korban supaya bisa dilakukan rehabilitas secara medis.

Adapun motivasi tersangka dipicu dorongan memenuhi hasrat demi kepuasan pribadi dengan cara memandangi foto video porno anak tersebut. TR juga terpengaruh narkoba, serta pikiran kosong. “Dan adanya latar belakang buruk yaitu sering ditolak perempuan sehingga berguru ilmu pengasihan dan pesugihan di beberapa kota,” tegas Asep.

Dari tangan tersangka Polisi menyita barang bukti berupa, 1 unit handphone warna gold, serta beberapa email dan akun di media sosial milik tersangka. Atas perbuatan tersebut, tersangka dijerat dengan Pasal 82 Jo Pasal 76 E dan/atau Pasal 88 Jo Pasal 76 I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan/atau Pasal 29 Jo Pasal 4 ayat (1) Jo Pasal 37 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pornografi dan/atau Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elekronik, dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5 miliar.

Berkaca dari kajadian ini, polisi menghimbau kepada orang tua akan turut aktif melakukan upaya pencegahan kejahatan siber pada anak. Caranya dengan mengontol penggunaan gadget anak sehingga aktivitasnya di media sosial bisa terpantau atau dengan melakukan pendekatan kepada anak supaya diketahui keluh kesahnya.

Para orang tua juga diminta tidak emosi mendengar cerita pahit yang dialami anak, orang tua pun dihimbau mengamankan aktivitas medsos anak dengan orang asing. Anak juga harus diedukasi tentang etika menggunakan medsos. Serta melapor ke pihak berwajib jika mengalami kekerasan seksual. (jpc)