Sabu-Sabu 38 Kg Gagal Masuk ke Sulsel, Kurirnya Diringkus di Samarinda

0 Komentar

FAJAR.CO,ID, TANJUNGSELOR–Inilah barang bukti terbesar sepanjang sejarah penangkapan tersangka narkotika jenis sabu-sabu di Kalimantan Utara (Kaltara), 38 kilogram.

Perjalanan narkotika golongan satu dari Tawau ke Samarinda itu terhenti di tangan Badan Narkotika Nasional (BNN), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Polres Bulungan, Sabtu (20/7) sekira pukul 08.00 WITA.

190 ribu jiwa diselamatkan. Demikian asumsi BNN saat merilis tersangka pada kasus tersebut, Minggu (21/7) di Tanjung Selor.

Kasubdit Interdiksi Darat dan Lintas Batas (DLB) pada BNN Kombes Pol Heri Istu Hariono menyampaikan, Kaltara mendapatkan perhatian khusus atas peredaran narkotika. Penyebabnya, letak geografis Kaltara memiliki daerah perbatasan darat dan laut. Kaltara jalur empuk masuknya narkotika.

“Tingkat kerawanan masuknya narkotika dari luar negeri dengan memanfaatkan daerah perbatasan cukup tinggi,” ucap Kombes Heri Istu Harion di Mapolres Bulungan menghadap meja yang sebagian tertutupi barang bukti.

Jalur tikus hingga ribuan, di sepanjang garis perbatasan dan pulau-pulau kecil. Kondisi ini menyulitkan petugas untuk menutup ruang gerak dan pintu masuk jalur narkotika ke Indonesia. Namun, BNN terus menguatkan sinergi lintas instansi guna melakukan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan.

Dirincikan, pelaku yang diamankan berinisial AF (20), warga Samarinda yang bermukim di Komplek Graha Indah, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

Pengungkapan itu bermula dari sebuah laporan atau informasi dugaan adanya pengiriman sabu-sabu dalam jumlah besar dari Tawau, Sabah, Malaysia. “Personel bergerak cepat atas informasi tersebut. Setidaknya membutuhkan waktu selama sebulan untuk mengungkap upaya pengiriman sabu tersebut,” jelasnya.

Pelaku diamankan tepat di Jalan Jelarai, Kecamatan Tanjung Selor. Pelaku mengendarai kendaraan roda empat (R4) jenis Innova dengan nomor polisi KT 1538 WE yang tengah melaju menuju Kaltim.

Sabu dikemas dalam plastik bening, disimpan di dalam dua tas berbeda dengan total keseluruhan 38 bungkus. Setiap bungkus masing-masing 1 kg.

Dugaan sementara, pelaku berperan sebagai kurir jaringan internasional. Barang bukti dan tersangka kini menjalani pemeriksaan lebih lanjut. BNN menduga kemasan sabu yang diamankan berasal dari jaringan baru.

Sebab, berdasarkan identitas barang bukti yang selama ini diamankan menggunakan kemasan tea merek Guan Yin Wang asal Cina.

Sedangkan, dari barang bukti 38 kg menggunakan kemasan tidak seperti biasanya. Menggunakan plastik bening dua lapis. Plastik dengan tanda berbentuk oval berbagai warna.

“Sedang kami dalami. Karena berdasarkan kemasan ini berbeda dengan kemasan segi tiga emas,” jelasnya saat menunjukkan sabu-sabu yang masih lengkap dalam kemasan.

Dari ciri-ciri itu pula, kata dia, umumnya barang bukti yang disita memiliki penanda sebagai identitas jaringan. Ciri khas itu juga menjadi kode atau petunjuk saat barang dalam pengiriman. “Dengan ini jaringan sudah memiliki peran masing-masing. Mulai dari bos hingga kurir. Dan kami masih melakukan pengembangan. Kalau pengakuan si kurir ini baru sekali bawa sabu-sabu,” kisahnya.

Pelaku pun dijerat Pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 35/2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.

JARINGAN KECIL TERHUBUNG BANDAR

Di Jalan Jelarai saat penangkapan itu berlangsung, suara mendesing yang begitu kuat mengagetkan warga. Lokasi penangkapan terjadi tak jauh dari Kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bulungan.

Penangkapan itu pun membuat geger. “Sempat ada suara tembakan sekali,” kata warga yang enggan namanya ditulis.

Sebuah mobil putih ditahan personel Satlantas Polres Bulungan. Warga pun semakin penasaran. Beberapa polisi berpakaian preman lantas meminta warga yang berusaha mendekat berbalik arah.

Dua orang diperiksa dari dalam mobil. Kemudian barang bawaan mereka juga ikut diturunkan. “Setelah proses pemeriksaan itu, semuanya langsung meninggalkan lokasi,” imbuhnya.

Kombes Pol Adi Affandi menegaskan kondisi geografis berbatasan dengan negara Malaysia sejumlah daerah di Kaltara menjadi perhatian. Seperti, Nunukan dan Kota Tarakan. Narkotika tersebut masuk melalui Kaltara dengan tujuan akhir Kaltim, Sulsel dan Sulteng, hingga ke Jawa.

Rute paling lazim, dari Tawau, Malaysia menuju Tarakan. Sebagian beradar di Tarakan, sebelum lanjut ke Tanjung Selor dan Samarinda atau Makassar. Jalur lainnya, dari Tawau ke Nunukan dan melanjutkan perjalanan via laut ke Sulsel.

“Semuanya barang dari Malaysia, naik kapal menuju Sulsel. Di Sulsel nantinya sabu akan terpecah di Parepare, Pinrang hingga Sidrap. Jalur tersebut dimanfaatkan pelaku untuk memasukkan narkotika ke Indonesia. Jaringan narkotika saat ini terorganisir melibatkan pelaku antarnegara,” kata pria yang menjabat Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltara tersebut.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...