Defisit Neraca Perdagangan USD8,7 Miliar, Terbesar Sejak Indonesia Merdeka

Selasa, 23 Juli 2019 - 09:00 WIB
Petugas memperlihatkan uang pecahan dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Selasa (4/9/2018). Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS melemah menjadi Rp14.940 per dolar AS pada perdagangan hari Selasa 4 September 2018. SP/Joanito De Saojoao.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah masih berjuang keras untuk melepaskan diri dari neraca dagang yang defisit.

Angka defisit neraca perdagangan 2018 yang mencapai USD8,7 miliar, adalah yang terbesar sejak Indonesia merdeka.

Defisit neraca dagang juga terus berlanjut dengan catatan USD1,94 miliar pada paruh pertama tahun ini.

Menko Perekonomian, Darmin Nasution menyatakan, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk mendorong ekspor maupun menekan impor.

Namun, hal tersebut tentu butuh waktu yang tak sebentar. Apalagi, pelaku usaha juga masih aktif melakukan bisnisnya sehingga risiko kenaikan impor tak terelakkan.

PLN Target Zero Accident di 2023

Wajah Menawan Tanpa Keriput dengan Bahan Alami

57 Pati TNI Naik Pangkat, Berikut Daftarnya

’’Sebenarnya mereka beli bahan baku dan lain-lain, itu tanda-tanda ekonomi kita masih tumbuh. Namun, ya, memang dampaknya akan susah di neracanya,’’ jelasnya akhir pekan lalu.

Kondisi manufaktur yang belum menjadi barang utama pendongkrak ekspor juga menjadi salah satu kelemahan Indonesia.

Indonesia lebih banyak bertumpu pada ekspor komoditas. Hal tersebut turut memengaruhi nilai ekspor Indonesia.

Indonesia sendiri mengalami penurunan ekspor 8,57 persen secara year-on-year (YoY) sepanjang semester I 2019 menjadi USD 80,32 miliar.

Sementara itu, impor turun 7,63 persen (YoY) menjadi USD 82,26 miliar. Hal itu turut dipengaruhi faktor perang dagang yang sudah terjadi sejak tahun lalu.

Geliat perdagangan terpengaruh sehingga tiap-tiap negara berjuang keras untuk menjaga pertumbuhan ekonominya. (jpnn)

loading...