Tren Peningkatan Kekerasan Anak, Bulukumba Dinilai Belum Layak KLA

Selasa, 23 Juli 2019 - 09:35 WIB

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR–Sejatinya, daerah yang meraih penghargaan sebagai Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA), angka kekerasannya menurun. Sayang, kadang tak linier.

Bulukumba, misalnya. Meraih KLA, namun kasus kekerasan anak terus meningkat. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Bulukumba merangkum datanya.

Jumlah kasus kekerasan pada 2018 sebanyak 26 kasus. Sementara pada periode Januari-Juni 2019 meningkat menjadi 34 kasus. Terdiri dari 25 kasus anak sebagai pelaku dan 9 kasus sebagai korban.

Kasat Reskrim Polres Bulukumba, AKP Berry Juana mengatakan, kekerasan anak didominasi kasus penganiayaan. Baik kenakalan remaja hingga penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal dunia.

Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan pencegahan melaului sosialisasi dan mengintenskan koordinasi lintas instansi.

“Butuh pendekatan lintas sektor karena kami di sini lebih fokus ke penegakan hukumnya,” bebernya, kemarin.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bulukumba, Umrah Aswani menjelaskan, sejumlah indikator menjadi syarat untuk ditetapkan sebagai KLA. Melibatkan beberapa instansi teknis dalam memenuhi kebutuhan anak. Salah satunya hak perlindungan anak.

Namun, meningkatnya angka kekerasan terhdap anak, dia klaim sebagai suatu keberhasilan. Sebab, masyarakat mulai sadar untuk melaporkan ketika terjadi kekerasan.

“Dulu jumlahnya kurang karena masyarakat belum sadar akan pentingya melaporkan, sekarang sudah banyak karena kita sudah sosialisasikan, ada unitnya yang menangani,” bebernya.

Selain itu, dia mengaku kesulitan untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat dengan keterbatasan yang dimiliki. Sehingga, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan Kementerian Agama dan 10 Kantor Urusan Agama (KUA) se-kabupaten Bulukumba untuk bersama menyosialisasikan pentingnya perlindungan anak.

“Tokoh agama, ustaz sangat dekat dengan masyarakat, misalnya kalau ceramah bisa disampaikan perlindungan anak, makanya kita libatkan mereka,” tambahnya.

Sementara itu, Ahmad Kurniawan dari Kantor Hukum A.A.K Bulukumba, menilai Kabupaten Bulukumba belum pantas mendapat penghargaan KLA. Hal itu disebabkan karena kasus kekerasan anak mengalami tren peningkatan.

Ini menandakan, langkah pencegahan melalui sosialisasi sangat minim. “Mestinya jika ada kasus yang melibatkan anak, pemkab harus proaktif agar tidak terjadi kasus selanjutnya, tetapi ini justru bertambah,” kuncinya. (sir/rif-zuk)

loading...