Buah Hati, Khuldi, dan Simalakama

Kamis, 25 Juli 2019 16:10
Belum ada gambar

OLEH: SABIR, S. T. (Kepala SMA Plus Al Ashri Global Mandiri Makassar)Buah jatuh tak jauh  dari pohonnya adalah peribahasa yang selalu diperdengarkan sebagai nasihat bahwa  tingkah laku anak tak jauh beda dengan orang tuanya. Tentu keliru jika peribahasa buah jatuh  ini dibalas oleh orang tua dengan peribahasa guru kencing berdiri, siswa kencing berlari. Seolah keluarga dan sekolah ingin saling lempar tanggung jawab dalam pembinaan akhlak.  Padahal yang seharusnya terjadi, sekolah dan keluarga saling bersinergi. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Menggantungkan harapan sepenuhnya kepada sekolah dalam hal mendidik anak, ibarat melepas anak panah dari busur tanpa sebelumnya menyiagakan kuda-kuda bahkan tanpa memicingkan mata untuk membidik.  Benar-benar lepas tanpa kendali, jangan harap akan tepat sasaran. Sehebat apapun sekolah, dengan kurikulum plus bagaimanapun,  ia tetaplah hanya punggung yang akan cepat membungkuk bila terlalu banyak menerima beban. Sehebat apapun sekolah, keluarga tetaplah pohon lebat yang mampu meneduhkan.  Di sana ada ibu sebagai madrasah dan ayah sebagai tulang punggung.Berguru pada pohon,  sinetron  Keluarga Cemara pernah hadir pada hampir setiap keluarga di Indonesia pada tahun 1996 – 2005. Arswendo Atmowiloto yang menjadi sutradara sinetron ini mampu menghadirkan tokoh Abah yang diperankan oleh Adi Kurdi sebagai sosok sederhana yang mampu menginspirasi anak-anaknya. Tak peduli bully-an teman-teman sekolahnya, anak Abah tetap tegar menghadapi ujian bahwa anaknya yang dulu pengusaha sukses lalu bangkrut dan harus menjadi tukang becak.  Ketenangan keluarga menghadapi badai keluarga, tetap  tak bisa menggoyahkan hidup anak-anak Abah. Di sinilah peran keluarga dalam pendidikan. Kita bisa saja beralasan bahwa itu hanyalah cerita fiktif, tapi kita bisa saja belajar dari pohon cemara yang selalu hadir menyejukkan.

Komentar


VIDEO TERKINI